5 Nov 2011

Bekal Aktivis Dakwah Dalam Surat Al-Qalam

Berbicara tentang Surat Al Qalam yang berarti pena, maka kita akan sedikit juga berbicara tentang Juz 29. Surat ini adalah surat ke 68 dan termasuk surat-surat yang diturunkan di Mekah. Juz 29 merupakan juz yang banyak menjelaskan tentang dakwah, bekal, sejarah dan contoh-contohnya. Seperti dalam surat Al Mulk berisi bekal dai, Al Qalam bekal dai berupa ilmu yang benar, Al Haqqah bekal dai berupa tadzkirah, ada juga surat Nuh yang berisi contoh dai dari kalangan Manusia, dan surat Al Jin yang berisi contoh dai dari kalangan jin, dan surat-surat lainnya, seperti Al Muzzammil, Al Muddatstsir, dan lainnya.

Ada beberapa Hikmah yang terkandung dalam surat Al Qalam ini, pertama hikmah secara umum, sebagaimana surat-surat Makkiyah lainnya, Al Qalam juga berisi tentang taqrir yang memperkuat aspek aqidah serta penegasan penetapan kenabian Saw.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/10/15583/bekal-aktivis-dakwah-dalam-surat-al-qalam/#ixzz1ctHbyt41
Hikmah yang kedua, bersifat khusus, yaitu perintah untuk mengikat ilmu dengan menulis dan mencari ilmu dengan informasi yang benar atau shahih.

Pesan Khusus

- Urgensi Ilmu Bagi para dai

[68:1] Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis,

Ketika kita ingin mengajak orang kepada kebaikan, tentunya kita harus memiliki ilmu untuk meyakinkan argumentasi kita. Untuk itulah kenapa Ilmu begitu penting, sehingga Allah berfirman dalam surat Al Qalam ayat 1 tentang ilmu ini.

Inilah bekal yang Allah siapkan untuk para dai, agar memperhatikan ilmu dan menuliskannya dalam rangka menyebarluaskan ilmu sehingga bermanfaat tidak hanya pada masa sekarang tapi juga di masa yang akan datang, untuk generasi mendatang.

ayat ini menarik, karena secara tersirat Allah swt menuntun kita agar memperhatikan perkembangan dunia tulisan, yang dahulu kala menggunakan tinta, sekarang sudah melalui dunia maya. Seorang dai harus melek teknologi, karena tulisan era sekarang tidak lagi berupa dalam selembar daun, kertas, atau batu tapi sudah melalui teknologi eBook, internet, dan lain sebagainya.

- Pahala bagi seorang dai

[68:3] Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya.

Ketika kita mengamalkan apa yang diajarkan oleh Rasulullah saw, kita tentu akan mendapat pahala atas amal yang kita kerjakan. Akan tetapi Rasulullah saw, para sahabat, dan orang-orang yang mengajarkan ilmunya, juga akan mendapatkan pahala meskipun mereka telah tiada. Inilah yang disebut amal jariyah, yang tiada terputus. Inilah pahala yang besar yang tiada terputus bagi seorang dai, yang menyebarkan ilmunya kepada semua orang, baik diri, keluarga dan lingkungannya. Dan salah satu cara yang membuat karya dan dakwah kita terus menerus diikuti orang adalah dengan menuliskannya dalam sebuah artikel, buku, kitab dan media lainnya yang akan bermanfaat tidak hanya saat ini tapi juga beberapa generasi mendatang. Bayangkan berapa besar pahala yang akan kita dapatkan karena tulisan dakwah kita mampu membuka hidayah banyak manusia?

- Pentingnya Akhlaq sebagai bekal Dai

[68:4] Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.

Dalam hinaan dan cacian yang makin lama makin mencekam, Nabi saw menghadapi dengan santun dan akhlaq yang agung. Meski mendapat siksa, intimidasi, boikot dan segala bentuk upaya untuk menghentikan dakwah Nabi saw, akan tetapi Nabi saw bersama para sahabatnya tetap tegar. Inilah rahasia dakwah Beliau saw, akhlaq!

Hadapi segala rintangan dakwah ini, fitnah, dan kekerasan dalam bentuk fisik, dengan akhlaq yang baik, bijaksana dan dengan cara yang benar. Biarkan mereka yang menyakiti kita, melihat akhlaq kita, dan siapa tahu, mungkin esok ia akan menjadi penopang dakwah kita yang paling keras dan tegas terhadap musuh-musuh dakwah ini.

- Akhlaq terhadap para Pencela

Berikutnya, adalah akhlaq yang harus kita lakukan ketika menghadapi para pencela dan pelaku fitnah, dengan sangat jelas Allah menuntun kita dalam Ayat 7-12 berikut,

[68:7] Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dia-lah Yang Paling Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

[68:8] Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah).

[68:9] Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu).

[68:10] Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina,

[68:11] yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah,

[68:12] yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa,

- Futur Dalam Dakwah?

[68:48] Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdoa sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya).

[68:49] Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat nikmat dari Tuhannya, benar-benar ia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela

[68:50] Lalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang saleh.

Ia adalah Nabi Yunus as, yang memilih untuk meninggalkan kaumnya yang tidak mau menerima dakwahnya. Dan hal tersebut mendapat teguran dari Allah swt, yang kemudian, Nabi Yunus meminta ampun seperti dalam surat Al Anbiya ayat 87.

Doa inilah yang kemudian membuat Allah memberikan nikmat kepadanya dan ampunan.

[21:87] Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.”

Maka, inilah I’tirof Nabi Yunus as, sebagai bekal bagi para aktivis dakwah, ketika merasa tidak ada yang mengikuti panggilan dakwah ini dan bahkan memusuhinya, janganlah berputus asa, dan janganlah mundur, dan banyaklah membaca doa Nabi Yunus ketika di dalam perut ikan,

“tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.”

Wallahu’alam.

1 Agu 2011

Kamuflase Ramadhan

“Mohon maaf atas segala khilaf”
Ya, kurang lebih sms seperti itu yang masuk ke HP saya akhir-akhir ini. Tak heran karena memang tak lama lagi bulan Ramadhan akan kembali menghiasi hari-hari kaum muslimin di seluruh dunia. Semua orang yang berikrar sebagai muslim tentulah tahu keunggulan bulan suci Ramadhan karena memang keutamaannya senantiasa diucapkan dan dikabarkan para penceramah di masjid-masjid. Jika kita merenung, mengapa makna dari bulan Ramadhan begitu besar dan mendalam seakan menjadi titik tumpu setiap umat atas sejuta harapan untuk kehidupan yang lebih baik pasca Ramadhan. Tidak heran, jika muara Ramadhan yang ditandai dengan “Idul Fitri” dijadikan sebagai hari kemenangan setiap umat yang menunaikannya.
Bulan Ramadhan memang sangat luar biasa dalam menuntun manusia kembali ke dalam jalan Tuhannya. Bagaimana tidak, dapat kita saksikan fakta di sekitar kita bahwa banyak sekali fenomena yang khusus terjadi pada bulan suci ini, misalnya penuhnya jamaah sholat subuh di masjid-masjid yang biasanya sepi dari aktivitas sholat fardhu.
Sebelum berlanjut ke pembahasan selanjutnya, mari kita simak kebiasaan Rasul SAW dan para sahabat ketika bulan Ramadhan. Dahulu, Rasul SAW dan para sahabat senantiasa menyibukkan diri dalam beribadah. Di siang hari beliau tetap semangat beraktivitas dakwah dan di malam hari menyibukkan diri dalam sholat malam serta I’tikaf. Sekarang mari kita lihat fenomena umat islam saat ini, khususnya para pemuda. Di siang hari kebanyakan mereka mengurangi aktivitas dengan alas an berpuasa, kemudian bermalas-malasan. Di siang hari mereka memilih tidur siang dengan dalih tidur siang adalah ibadah. Memang benar, namun jika tidur siangnya orang berpuasa saja adalah ibadah lalu bias dibayangkan bila waktu tidur siang tersebut dilakukan untuk beramal sholih, tentu akan lebih berpahala besar. Sedangkan di sore hari, apa yang mereka lakukan? Mereka membuat daftar list masjid-masjid yang menyediakan buka puasa gratis nan dengan menu makanan yang di atas rata-rata. Manusiawi memang, namun kapan waktu yang disediakan untuk tilawah? Untuk sholat duha? Untuk membaca buku-buku islami?
Saudaraku sekalian, jangan sampai bulan suci Ramadhan yang benar-benar suci ini kita sambut dengan kesunngguhan ibadah kita yang hanya semu belaka, yang hanya bersemangat beribadah hanya dalam bulan Ramadhan. Ramadhan merupakan bulan latihan, yang artinya kita sebagai seorang muslim harus benar-benar siap menjalankan ibadah seusai Ramadhan. Semua orang mungkin sudah bosan dengan pernyataan ini. Tapi apakah kita pantas merasa muak dengan pernyataan ini sedangkan hal ini memang merupakan sesuatu yang harus kita laksanakan??
Rasa syukur yang tak terhingga kita panjatkan kepada Sang Pencipta alam semesta dan seisinya ini karena berkat kemurahan-Nyalah kita bisa melaksanakan puasa pada bulan Ramadhan tahun ini. Marilah kita bersama-sama merenungi kembali bagaimana ibadah puasa kita tahun ini. Apakah puasa kita tahun ini lebih baik atau sebaliknya dari tahun-tahun yang telah kita lalui. Yuk, mari bersama berusaha menjadi manusia yang lebih baik!

“Dalam samudera bisa diduga
Dalam hati siapa tahu
Ditunggu segera undangan buka puasa
Pasti bermakna ibadah Ramadhanmu”

7 Jul 2011

Miskinnya wakil rakyatku...

Miskinnya wakil rakyatku...

Hingga gaji sebulan berpuluh juta belum cukup memenuhi kebutuhan...

Bahkan rumah pun harus dibangun untuk tempat berteduh..

Tak cukup disana wakil rakyatku pun harus diberi mobil agar mudah bepergian..



Ah...miskinnya wakil rakyatku...

Hingga kemudian harus membangun gedung baru...

Kasihan wakil rakyatku merasa kesempitan di gedung yang lama...

Mereka merasa tidak leluasa untuk bekerja...



Aduh...miskinnya wakil rakyatku..

Agar mereka semakin sejahtera dan terjamin kehidupannya maka tunjangan pun mengalir deras...

Bahkan agar komunikasi selalu lancar mereka pun diberi fasilitas pulsa sekian juta...

Akomodasi disediakan sedemikian rupa agar perjalanan dinas keluar negeri semakin nyaman..

Hotel dan uang makan..benar-benar diberikan agar wakil rakyatku tidak kelaparan dan tidur dengan nyenyak...



Upps...gapteknya wakil rakyatku...

Ditanya emailnya apa kok ga’ tahu?

Mungkin perlu diberikan juga kursus teknologi agar tidak menjadi bahan olokan...



Miskinnya wakil rakyatku...

Hingga harus selalu disantuni..

Konon agar kerjanya semakin luar biasa...

Padahal hanya duduk-duduk santai dikursi seempuk sofa...

Ya sudah...sembari selalu memberi...

Mari sama-sama doakan agar amal kita sebagai rakyat yang menyantuni mereka diterima oleh Allah SWT...

Aamiin...^^

2 Jul 2011

Mengapa Kita Saling Menyalahkan.

Sore itu, cuaca agak mendung, menemani derapan langkah untuk kembali ke asramaku ku tercinta. Memang sudah mau maghrib. Tiba-tiba ponsel ini bervibrasi tanda ada sms masuk. Tak dinyana, ternyata saudara yg nian tak berjumpa menghubungi dan membawa kabar akademis. ya.... sebetulnya kabar yg dibawa sedikit membuatku tertarik. Akademis gitu lho...,
namun sebenarnya saya tidak begitu memperdulikan apa yg dikabarkan. namun saya putuskan untuk melanjutkan obrolan dengan dirinya. yah, lumayan lah untuk 'memperjelas' hubungan silaturahmi yang kebetulan kami dulu satu aktivitas di SMA.
Lalu tak lama kemudian, entah mengapa saya tertarik untuk mengunjungi blog beliau. dan apa yang saya temukan. hmmm sebuah tulisan yang saya rasa perlu saya baca. benar saja, nampaknya saya terlibat dalam tulisan tersebut. pada intinya, beliau terkesan pada sebuah kata yang bertuliskan AL FATIH, yang kita sama-sama tahu bahwa Muhammad Al FATIH adalah pemuda gagah berani penakluk konstantinopel.

Baik, namun di sini saya tak akan membahas secara detail kisah juang M. AL FATIH. saya tahu bawwa AL FATIH merupakan sosok tauladan yang baik, ya tentu tauladan yang utama tetaplah Rasullullah SAW. lalu, tidak bolehkah mengidolakan seseorang yang kita harapkan dapat memberikan motivasi kepada kita agar kita mampu menjadi pribadi yang lebih baik? salahkah? tentu hal tersebut menurut saya boleh saja. berharap bahwa kita akan menjadi lebih baik dengan mencontoh orang-orang yang baik.

Lanjut . . .
terkait hal yang lain, mohon maaf jika sebagian pembaca ada yang kurang paham, karena saya memang bukan orang yang ahli dalam menyampaikan. memang kondisi bangsa yang serba semrawut ini, peran dakwah islam sangat vital dalam mengawal moral bangsa.
lalu, metode apa yg tepat???? dengan segala kondisi yang ada, perbedaan yang timbul serta majemuknya masyarakat kita??
tentulah peran orang-orang yg sdh paham tentang dakwah mengerti hal ini. SUNGGUH ANEH jika ada seseorang yang dirasa kapabilitas kefahamannya sudah lumayan tinggi, masih mengkotak-kotakkan metode dakwah yang tepat itu seperti apa. Ketahuilah bahwasanya, yang perlu digarisbawahi disini adalah, hormati dan hargai perbedaan yang ada. Seyogyanya kita tidak saling memperdebatkan cara apa yang tepat. Kalau dirasa metode itu masih baik dan tidak melanggar syariat ya boleh lah diterapkan. Sampai disini dulu. Tak akan ada habisnya jika terus dilanjutkan.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India