18 Apr 2016

Al Ikhwan Dekat dengan Syiah (?)

Petikan dari kitab yang ditulis oleh Umar At Tilmisani, 

"Bahkan dengan kelompok Syi’ah-pun berpelukan. Itu terbukti dengan usaha Al-Banna untuk menyatukan antara Sunnah dengan Syi’ah, dan tak sedikit anggota gerakan yang beraliran Syi’ah."

Umar At-Tilmisani, murid Al-Banna sekaligus pimpinan umum ketiga gerakan ini, mengungkapkan: 
“Pada tahun empat-puluhan seingat saya, As-Sayyid Al-Qummi, dan ia berpaham Syi’ah, singgah sebagai tamu Ikhwanul Muslimin di markas besarnya. Dan saat itu Al-Imam Asy-Syahid (Al-Banna) berusaha dengan serius untuk mendekatkan antar berbagai paham, sehingga musuh tidak menjadikan perpecahan paham sebagai celah, yang dari situ mereka robek-robek persatuan muslimin. Dan kami suatu hari bertanya kepadanya, sejauh mana perbedaan antara Ahlus Sunnah dengan Syi’ah, maka ia pun melarang untuk masuk dalam permasalahan semacam ini. Kemudian mengatakan: ‘Ketahuilah bahwa Sunnah dan Syi’ah adalah muslimin, kalimat La ilaha illallah Muhammad Rasulullah menyatukan mereka, dan inilah pokok aqidah. Sunnah dan Syi’ah dalam hal itu sama dan sama-sama bersih. Adapun perbedaan antara keduanya adalah pada perkara-perkara yang mungkin bisa didekatkan.” (Dzikrayat la Mudzakkirat, karya At-Tilmisani, hal. 249-250)
Tanggapan :

Kebanyakan oknum yang mengkritik Al Ikhwan tidak terlalu memperhatikan aspek sejarah dan latar belakang sosial dan politis suatu ijtihad politik seseorang. Sikap inshaf biasanya dikalahkan oleh sentimen yang telah terbentuk sejak awal. Kemungkinan berikutnya, sang pengkritik memang tidak belajar metodologi historiografi dan sosiologi untuk menilai sesuatu.
 

Bagi yang membenci gerakan Al Ikhwan, tak sedikit oknum bahkan para thulab yang sering mengaitkan gerakan al ikhwan dekat dengan Syiah. Alasannya bermacam, diantaranya Syaikh Hasan Al Banna pendirinya pernah bertemu dengan seorang tokoh Syiah Iraq, lalu membuat pernyataan "saling hormat-menghormati."

Akan tetapi banyak yang lupa, bahwa pernyataan itu disampaikan pada era tahun 1940-an, ketika Mesir dan Iraq saat itu sedang sama-sama dalam masa KOLONIALISME. Semua pihak butuh kerjasama untuk melawan penjajah. 
Dan satu lagi, pada waktu itu era 1940-an, gerakan Syiah bersifat pasif, bukan tidak agresif seperti sebagaimana yang dilihat kaum muslimin saat ini. Dalam pandangan mereka, tidak ada Jihad sampai datang Al Mahdi. Namun setelah REVOLUSI KHOMEINI 1979 (jauh setelah Hasan Al Banna wafat), gerakan Syiah berubah total. Mereka menggerakkan PAN-SYIAHISME. Mereka kemudian mengekspor akidah syiah tersebut ke mana-mana.

Maka sejatinya, Syiah era lama dan era baru sangatlah berbeda. Syiah ala Khomeini, adalah SYIAH AGRESSOR. Dan pastinya, ideologi Al Ikhwan sudah kenyang menghadapi yang begitu. Wallahu a'lam.

Mari biasakan untuk mencari udzur untuk sesama Ahlus Sunnah.

Akidah Atsariyah-Taimiyah dan Asy 'Ariyah-Maturidiyah dalam Perspektif Al Ikhwan

Mengenai kubu aqidah (atsariyah-taimiyah dan asy'ariyah-maturidiyah), beliau menengahi:

Syaikh Hasan Al Banna Rahimahullah mengatakan:

أولا : اتفق الفريقان على تنزيه الله تبارك وتعالى عن المشابهة لخلقه .
ثانيا : كل منهما يقطع بأن المراد بألفاظ هذه النصوص في حق الله تبارك وتعالى غير ظواهرها التي وضعت لها هذه الألفاظ في حق المخلوقات ، وذلك مترتب على اتفاقهما على نفي التشبيه .

ثالثا : كل من الفريقين يعلم أن الألفاظ توضع للتعبير عما يجول في النفوس ، أو يقع تحت الحواس مما يتعلق بأصحاب اللغة وواضعيهاوأن اللغات مهما اتسعت لا تحيط بما ليس لأهلها بحقائقه علم ، وحقائق ما يتعلق بذات الله تبارك وتعالى من هذا القبيل ، فاللغة أقصر من أن تواتينا بالألفاظ التي تدل على هذه الحقائق ، فالتحكم في تحديد المعاني بهذه الألفاظ تغرير .
وإذا تقرر هذا فقد اتفق السلف والخلف على أصل التأويل ، وانحصر الخلاف بينهما في أن الخلف زادوا تحديد المعنى المراد حيثما ألجأتهم ضرورة التنزيه إلى ذلك حفظا لعقائد العوام من شبهة التشبيه ، وهو خلاف لا يستحق ضجة ولا إعناتا

Pertama. KEDUA kelompok sepakat dalam mensucikan Allah ﷻ DARI bentuk penyerupaan dengan makhluk-Nya.

Kedua. SEMUA kelompok sepakat untuk memutuskan bahwa maksud lafal dalam nash-nash seperti ini sepenuhnya dalam konteks yang sesuai dengan dzat Allah ﷻ, bukan sebagaimana dipahami untuk makhluk-Nya. Dengan demikian keduanya sepakat menghindari tasybih (penyerupaan Allah ﷻ dengan makhluk).

Ketiga. SEMUA pihak sepakat bahwa lafal-lafal ini disebutkan untuk mendekatkan pemahaman dalam benak, atau diletakkan dalam kerangka indrawi pengguna bahasa itu. Dan sebuah bahasa betapa pun tingginya, tidak mampu mengungkapkan sesuatu yang memang tidak dimengerti oleh penggunanya. Esensi yang berhubungan dengan dzat Alah ﷻ dipahami dalam konteks tersebut. Bahasa memang memiliki kelemahan untuk mengungkapkan hakikat ini.

Jika sudah ditetapkan yang demikian ini, maka antara salaf dan khalaf sepakat secara prinsip atas dasar-dasar ta’wil. Perbedaan mereka adalah bahwa khalaf menambahkan pembatasan makna yang dikandung dengan tetap menjaga kesucian Allah ﷻ dengan tujuan agar orang awam tidak terjerumus dalam pemahaman tasybih. Perbedaan seperti ini tidak seharusnya menghasilkan kegoncangan. (Majmu’ah Ar Rasail, Al Aqaid, Hal. 330)

15 Apr 2016

Membenahi Pola Pikir

Sekolah SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun, Sarjana 4 tahun, Master 2 tahun, dan sekolah Doktor 3 tahun. Totalnya kurang lebih selama 21 tahun manusia bersekolah yang mana tujuannya tidak lain adalah agar masa depannya cerah, agar segala target kebutuhan di dunianya terpenuhi.

Sekarang bandingkan. Hadir di majelis taklim, seminggu sekali durasi 2 jam. Setahun ada 52 minggu, artinya hanya ada 104 jam dalam setahun atau jika misal umur manusia 60 tahun, maka ia hanya mengeluarkan waktu sekitar 9 bulan saja dari keseluruhan hidupnya yang ia gunakan untuk hadir di majelis taklim. Dan majelis taklim ini dihadiri katanya adalah untuk bekal akhirat.

Singkatnya, manusia rela menghabiskan waktu selama 21 tahun untuk mengejar kehidupan dunianya yang hanya 60 tahun, tetapi ia hanya rela mengeluarkan waktu 9 bulan saja untuk meraih kehidupan akhirat yang sudah diyakini durasi waktunya adalah kekal tak terhingga. 

Bukankah ini salah satu bentuk kekeliruan pola pikir?

Kira-kira lebih masa depan mana, masa 60 tahun hidup di dunia atau masa yang selama-lamanya di akhirat?

Maka, mari mulai dari sekarang kita ubah cara berpikir keliru yang seperti ini. Masa depan itu bukanlah masa setelah lulus kuliah, bukan pula masa saat sudah mendapat rumah dan pekerjaan yang mapan. Masa depan yang hakiki adalah masa setelah kematian, di mana harta dan benda yang telah dengan kerja keras dikumpulkan tidak akan berguna sedikit pun jika tak diinfaqkan di jalan yang benar.

Beramallah sebelum semuanya terlambat. Bisa jadi saat ini dunia adalah nyata dan akhirat hanyalah cerita, namun setelah mati dunia hanya akan jadi cerita dan akhiratlah yang menjadi nyata.

10 Apr 2016

Tentang Hafidz Cilik


Baiklah, hari ini mendapat tamparan cukup keras agar diri ini kembali serius untuk melakukan muhasabah. Tausiyah syaikh Ali Jabeer dan 'Syaikh' Rasyid, anak usia 8 tahun yang telah berhasil menyimpan seluruh kalamullah di dalam qolbunya itu membuat kami tak berhenti menahan kagum dan haru.
Sebenarnya fenomena anak usia dini yg berhasil menjadi hafidz quran ini sudah bukan menjadi sesuatu yang asing di telinga masyarakat. Apalagi setelah maraknya program hafidz cilik di telivisi, selain Rasyid juga muncul nama-nama lain seperti Luqman, Azza, dan Musa yang sudah sering mewakili Indonesia di ajang program lomba tahfidz internasional.
Testimoni paling populer yang sering diucapkan hadirin (termasuk juga si empunya status) usai melihat fenomena penampilan hafidz cilik ini adalah, "Saya juga kepingin punya anak seperti itu, hafidz quran, masih kecil sudah pinter tilawah. Gimana caranya?"
Karena penasaran, saya sempatkan tadi tanya sepintas ke Bapak Rasyid, apa resepnya dan bagaimana tips-tipsnya. Setelah saya catat dan saya coba juga pelajari dari berbagai sumber, kurang lebih seperti berikut :
1. Niat sungguh-sungguh dari orang tua untuk menjadikan anaknya hafidz Quran
2. Memperbanyak do'a kepada Allah
3. Orang tua selalu menjaga diri dari perbuatan maksiat
4. Ketika istri mengandung, suami & istri memperbanyak baca al quran dan memperdengarkan sang janin dengan al quran
5. Ketika anak sudah lahir maka jauhkan dari TV dan musik yang tak bermanfaat 
6. Anak umur 2 tahun ajarkan huruf hijaiyah
7. Anak umur 3 tahun mulai latih menghafal Quran. Pada umur ini anak akan mudah mengingat
8. Orang tua hendaknya punya amalan andalan yang bisa dijadikan wasilah untuk terkabulnya do'a, misalnya istiqomah sholat tahajud atau sholat dhuha setiap hari
9. Sebelum itu semua, silakan cari calon umminya dulu, sebab semua itu tidak akan bisa terlaksana kalau anda masih jomblo smile emoticon
Kata-kata andalan yang sering saya bisikkan ke dalam diri untuk motivasi ialah,
"Ingatlah, anak bisa hafidz qur'an sekali-kali bukanlah karena jasa orang tuanya, bukan pula jasa guru/ustadz yang mengajarinya, melainkan itu semua merupakan rahmat dan kasih sayang Allah swt kepada para hamba yang telah dipilih-Nya. Maka sebenarnya, tugas kita sebagai orang tua bukanlah sibuk tentang bagaimana cara mengajari anak, tapi sibuklah bagaimana memperbaiki diri agar kita pantas dan layak mendapatkan rahmat Allah swt untuk menjadi orang tua seorang anak yang hafidz qur'an."
Semoga kita tidak menjadi orang yg hanya merasa kepengin-kepingin saja tanpa ada action nyata yang dilakukan ‪#‎jleb‬.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India