10 Feb 2013

Kisah tentang Perjalanan

Kisah tentang Perjalanan…
Cerita tentang salah satu prodak KSB JMMI ITS yang digarap oleh beberapa lini dalam kepengurusan, ya dialah Islamic Journey.

Pra Keberangkatan
Tanggal 1–4 Pebruari 2013 adalah tanggal yang menjadi kesepakatan lembaga untuk diselenggarakannya prodak bersama antara Huga, Syiar dan BSO FSLDK yaitu Islamic Journey (yang kemudian disebut IJ). Sempat terbesit pikiran “si IJ ini jadi nggak ya??” mengingat H-3 minggu kepastian akan prodak ini belum yakin 100%. Ya, tak mengherankan karena memang pada saat itu kondisi lembaga sedang disibukkan dengan PSI 3 yang digelar tanggal 18-20 Januari 2013.
Keraguan tersebut lama-kelamaan terkikis pasca PSI 3, karena benar setelah H-2 minggu rekan-rekan panitia PJ si IJ ‘ngebut’ syuro untuk prepare prodak yang terbilang cukup langka ini karena melibatkan 3 lini sekaligus. Salut pokoknya buat akh nanda, akh uki, ukh uul, ukh puji, ukh yani, dan beberapa rekan staf yang merelakan berjibaku syuro maraton dari ba’da duhur hingga qobla maghrib. Perjuangan antum (semua) luar biasa.
Permasalahan lain timbul. tujuan IJ tahun ini adalah ke Bandung boy, jauuuuh. Celetukan alasanannya simple, klo 2 tahun lalu udah studi banding ke Malang, setahun lalu ke semarang, maka tahun ini yang harus ke bandang (bandung maksudnya). “Tahun ini harus lebih jauh dari tahun kemarin bro !!” (karangan siapa semboyan kyk gini?)
Kalo ente liat di gugel map, jalan dari Surabaya ke bandung tulisannya itu lewat jalur pantura 690 km, 17 hours 30 mins (ini saya copas langsung dari gugel map). Sempat ada diskusi kecil dengan beberapa temen PH. “wes gak usah nyang bandung, larang cak !!, adoh pisan…” . Sempat itung-itungan juga terkait pembiayaan ke bandung dan hasilnya mencapai angka yang cukup spektakuler. Alhasil, sang kadep syiar akh uki melontarkan kata-kata, “ya, kalai memang pendanaannya cukup ‘wow’, akan dibicarakan lagi di syuro panitia”. Lengkap sudah tingkat pesimisitas untuk perjalanan ke Bandung.
(beberapa hari kemudian)
“insya allah tetep budhal nyang bandung”, kata pak kadep syiar di forum syuro PH, “tapi bayarnya 150rb ya !” lanjutnya. “jeng jeng” (bermain gitar dalam hati). Biasanya mahasiswa itu anti yang mahal-mahal. Dari sini juga sempat timbul prasangka, ada yang mau ikut nggak ya kalo bayarnya mahal segitu? Akhirnya singkat cerita peserta IJ ini membludak bahkan sampe nolak-nolak.

Hari pemberangkatan
Hari H pun tiba. Serombongan pasukan merah marun bersiap menuju Bandung untuk memperoleh kemanfaatan. Sejumlah 57 manusia + 1 orang, berbaris dengan rapi, dan meguatkan niat bahwa yang mereka akan lakukan adalah bukan sekedar jalan-jalan, melainkan tholabul ilmi. Sambil sesekali menatap kea rah bus yang digadang-gadang masih baru karena baru 3 hari dibeli. Kita nganyari. Lantunan doa untuk memohon keselamatan dan ridho Allah SWT agar perjalanan ini senantiasa barokah dan penuh kemanfaatan.

On the Way
Bus penuh. Perjalan panjang. Kali ini akh Erwin didaulat menjadi tour guide  sebagai iqob nggak ikut syuro prepare karena masih di kampong halaman di Lombok (inilah mengapa akh Erwin tdk tersebut di atas). Harus putar otak agar dapat melayani peserta dengan baik dan agar setiap detik dalam perjalanan tidak ada sesuatupun yang didapat melainkan ilmu dan hikmah. Beruntunglah di dalam bus ada layar LCD dan digital player yang biasanya digunakan untuk menghibur para penumpang. Panitia telah mempersiapkan beberapa video ataupun tausiyah mp3 agar para pesera IJ ini tidak bosan.
Oke, pertama kita putar video tauisyah yusuf mansyur. “lhoh kok nggak bisa?” usut punya usut, player hanya bisa memutar file berformat mp3. Bingung dan sedikit kecewa. Bayang-bayang perjalanan yg membosankan pun berseliweran. Putar badan 360o , dan Tanya-tanya ke anak belakang. “Biasanya kalo player kayak gitu format yg cocok .DAT  dan .AVI mas” sahut adam. “oke”, buka laptop -> convert. Selesai. “coba akh erwin putar ini”, hasilnya. Gagal. “coba .mpg mas” sahut adam. “ok”. Convert. “coba lagi yang ini akh Erwin”, kasihan bolak balik tancap flashdisk. “horeeee” Alhamdulillah bisa. Nah semenjak itu, perjalanan ternikmati dengan meng-convert file-file video. Para peserta selamat menyaksikan tayangan-tayangan ini, insya allah akan membawa banyak ilmu dan manfaat.

Masuk Kota Bandung
Rundown acara menyebutkan bahwa tujuan awal IJ adalah ikut mendengarkan kajian ust aa gym di ponpes darut tauhid. Sekitar pukul 4.00 kita hampir memasuki kota Bandung. Namun saat itu HP bergetar tanda ada sms masuk. “AA Gym sedang di Jakarta, mohon maaf beliau tidak bisa mengisi kuliah subuh pagi ini”, begitulah inti sms yang masuk dari salah seorang rekan panitia. Menelan ludah dengan berat sambil berpikir enaknya gimana. Menengok kiri kanan peserta yang sedang tenang terlelap tertidur, tidak tega rasanya jika harus menyampaikan berita ini. Namun di sisi lain. “kok nggak sampai-sampai ya?” (dalam hati). Diskusi ringang dengan tour guide (akh Erwin maksudnya), eh ternyata jarak ke DT masih cukup jauh dan nampaknya nggak nutut wktunya jika sholat subuh di sana. Akhirnya kesepakatan panitia untuk banting setir terus lanjutkan perjalanan sampai ke ITB. Darut Tauhid dipikir nanti sambil jalan dan tentu diikuti dengan doa serta yakin rencana Allah selalu indah.

Tiba di ITB
Turun dari bus, langsung masjid Salman tujuannya. Rata-rata mereka yang baru pertama kali datang ke ITB terpukau dengan adanya termos kopi dan teh yang disediakan di sekitar halaman masjid. Kekaguman mereka bertambah ketika melihat sepatu dan sandal jamaah yang tertata rapi karena ada petugas yang selalu merapikannya. Tak mengherankan karena pelayanan masjid Salman memang sangat luar biasa. Semoga kampus kita bisa segera menyusul. Makmurnya masjid Salman tak lepas dari kontribusi yayasan salman yang memiliki banyak usaha dan bisnis. Masjid Salman bukanlah masjid kampus, tidak ada hubungan struktur dengan rektorat ITB, hanya letaknya saja yang kebetulan dekat dengan ITB maka orang sering beranggapan bahwa masjid Salman adalah masjidnya ITB. Karena sudah ada masjid dekat kampus, maka ITB tidak perlu membangun masjid lagi.
Kita percepat ceritanya. Saat sesi presentasi dan diskusi, sampailah saya pada suatu kesimpulan bahwa LDK kita, JMMI tidak kalah baiknya dengan Gamais. Bahkan dibeberapa poin JMMI memiliki nilai plus, missal LDF/LDPS di sana tidak mendapatkan SK kepengurusan, dan di kampus kita ketua LDJ berhak mendapatkan SK baik dari TPKI maupun himpunan. Bahkan pasca presentasi perkenalan LDK JMMI ITS kepada pengurus gamais, sempat terlontar ucapan dari sang pembawa acara “subhanallah LDK JMMI luar biasa, seharusnya kamilah yang harus belajar ke ITS”. Intinya, kalau Gamais sering dijadikan kiblat LDK se-nusantara, maka saya yakin JMMI ITS juga bisa. Dan pasti bisa. Mengenai pelajaran dan hikmah lain sudah terwakilkan oleh catatan beberapa rekan lain. Silakan dicombine sendiri ya.

@LDK UKDM UPI
Geser ke UPI. Luar biasa. Pusat dakwah kampusnya bukan lagi masjid, melainkan Islamic centre. Disambut dengan ramah dan hangat. Mentoring wajib tak hanya didukung dosen-dosen, tapi juga rector dan jajarannya. Tak heran jika UPI menjadi kampus percontohan untuk mentoring nasional. Lengkap. Di Islamic center semuanya tersedia, mulai dari tempat mentoring yang nyaman, ruangan-ruangan yang megah, perpustakaan islam yang luas. Intinya luar biasa. Di sana mentoring tidak ditangani oleh LDK, LDK hanya sebagai supporting system. Mereka ada lembaga tersendiri (yang menurut saya) strukturnya jauh lebih besar daripada LDK nya sendiri. Untuk mengefektifkan waktu, di UPI ini rombongan ITS di-split menjadi 4 kelompok, yaitu kelompok mentoring, puskomda (mengingat UPI adalah puskomda Bandung Raya), syiar dan kaderisasi. Hasil diskusi bisa dibaca nanti pada karya teman-teman yang lain, insya allah.

Darut Tauhid
Pasca dari UPI ada himbauan untuk segera ke DT. Jaraknya deket, kalo jalan kaki cuma 15 menit. Kabarnya aa gym sudah balik dari Jakarta ba’da ashar. Wah… subhanallah. Rencana Allah selalu indah. Tadi pagi subuh batal ke DT karena macet dan waktu yang nggak nutut dan aa gym sedang tidak di tempat, sekarang diganti Allah dengan rencananya yang lebih agung. Lanjut…
“Kalo nggak buru-buru ke DT sebelum maghrib, biasanya nggak kebagian tempat karena jamaah sudah full”, kata akh nanda. Oke, pasca ambil gambar bersama teman-teman UPI, rombongan langsung ke DT jalan kaki. Lima menit sebelum sholat maghrib dimulai tiba-tiba muncul seseorang dari balik bilik dan berdiri satu meter di depan saya untuk melihat kondisi jamaah, lalu kemudian beliau masuk lagi ke dalam bilik. Rasanya tak asing orang tadi. “Ki, siapa tadi itu?” tanyaku pada uki. “aa gym zan”. Wow, saya pangling dengan wajah beliau yang sedang tak mengenakan sorban seperti saat tampil di tivi-tivi. Pasca sholat maghrib yang diimami beliau dan mendengarkan bacaan sholat tepat dibelakang beliau rasanya menenangkan. Pasca itu beliau memberikan kultum dengan tema rumus 3A. apa saja sudah tahu kan?
Ba’da sholat isya kami lanjutkan siaturahim kepada salah satu pengurus ponpes DT. Subhanallah sekali ponpes ini ternyata memiliki berbagai jenis santri, mulai dari santri bayi sampai santri orang-orang sepuh ada di DT. Kang Asep yang menjadi juru bicara DT menyambut senang kedatangan temen-temen JMMI ITS. Terlebih saat diberikan cindera mata berupa lukisan masjid DT yang mirip dengan wujud aslinya. Mungkin dalam hati beliau berkata, “Kok miriiiiiiippp” (tentunya bukan dengan nada PWK).

@Rehat di Kediaman Kawan
Jazakumullah khoiran katsir kami sampaikan kepada akh hanief yang telah berkenan menerima kami sejumlah kurang lebih 60 orang. Sebuah penginapan yang nyaman dan keluarga yang ramah (dan saudara yang banyak karena ada di mana-mana) dan tentunya gratis, semoga silaturahim ini akan menambah erat hubungan persaudaraan kita. Syukron bro. . .

@Pangandaran
Pantai yang cukup ramai, maklum hari ahad. Pertama, apel dulu, dan ajakan untuk senatiasa meluruskan niat selalu diulang-ulang. Untuk menghindari keramaian kita nyebrang ke pulau seberang pake perahu nggak berenang. Ternyata harga naik perahunya beda-beda, tergantung kita pintar-pintar nawar harga. Akhirnya kena 15rb per kepala. Tidak apa2, semoga bisa menjadi berkah untuk keluarga para pak sopir perahu.
Sampai di seberang, yang ada adalah mentadaburi karunia Allah yang sangat indah luar biasa. Pasca itu peserta tidak tahan untuk tidak main air termasuk pak ******* (sensor 100%) yang akhirnya basah juga. Sesekali bolehlah melepaskan penat dari aktivitas kampus yang menyibukkan.

Epilog
Setelah semua agenda usai, tibalah saatnya kembalii ke kampong halaman. Kembali menyelami kehidupan nyata di kampus. Banyak tugas dan amanah yang menanti . Begitu banyak pengalaman inspiratif yang telah kita dapatkan. Akankah hal itu akan menjadi sia-sia? Mengapa engkau tak mencoba untuk menuliskannya agar dapat menjadi ibroh dan pelajaran untuk generasi mendatang?


Sesungguhnya perjalanan ini indah bukanlah karena laut yang menyejukkan mata, pasir gembur yang menyenangkan, dan bukan pula karena rindangnya tumbuhan hijau.

Namun ini semua telah menjadi indah karena engkau saudaraku senantiasa ikhlas membersamaiku
“Beginilah cerita ini ku tuliskan untukmu dari sudut pandangku”

0 komentar:

Posting Komentar

Pribadi seseorang tercermin dari apa yang diucapkannya.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India