8 Feb 2012

Ketika Dakwah di Lembagakan secara Formal

Tantangan dakwah akan bertambah berat ketika lembaga kemahasiswaan seperti BEM atau Himpunan telah terkondisikan oleh para ADK. Mereka dituntut untuk mampu menjawab bagaimana dakwah dapat dilaksanakan pada sebuah lembaga formal yang mereka pimpin. Tentunya tidak sekedar memimpin seadanya saja, berbagai gebrakan perlu dilakukan agar massa kampus dapat merasakan perbedaan mendasar kondisi kampus ketika seorang aktivis dakwah yang memimpin dengan ketika kelompok lain.
Untuk menjawab pertanyaan ini, pertama-pertama sayang ingin mengajak sahabat semua untuk memiliki cara berpikir yang bijaksana ketika telah memimpin sebuah lembaga kemahasiswaan. Kita perlu meyakini bahwa memimpin lembaga kemahasiswaan bukan berarti kita akan mendominasi keseluruhannya dan mengubah BEM atau Himpunan tak ubahnya seperti sebuah Lembaga Dakwah Kampus. Cara pandang ini perlu diubah agar nantinya kepemimpinan kita dapat lebih bermanfaat untuk massa kampus.
Berbicara tentang mengformalkan dakwah dalam lembaga non-dakwah adalah sebuah tantangan tersendiri, disini kita tidak berbicara tentang koptasi lembaga, melainkan tentang menyentuh lembaga tersebut dengan nuans kebaikan. Sifat heterogenitas dari lembaga kemahasiswaan tersebut baiknya tetap dipertahankan agar tetap dapat menjadi sebuah pembelajaran bagi kader dakwah.

Setidaknya ada tiga hal yang perlu dipertimbangkan ketika dakwah dilembagakan secara formal, dalam bagian ini, kita akan mencoba untuk membahasnya satu persatu;
  1. 1. Utamakan keteladanan daripada pemaksanaan gagasan
Kembali, keteladanan adalah kunci yang sangat penting dalam memastikan sentuhan dakwah kita terasa oleh objek dakwah. Pemaksaan gagasan melalui perubahan peraturan yang tiba-tiba atau dengan melarang tradisi yang telah ada, akan memunculkan permasalahan baru tersendiri. Ingat, ketika memimpin di lembaga kemahasiswaan bukan berarti kita bebas melalukan hal-hal yang kita inginkan dengan segera, coba hargai proses yang bertahap.
Keteladanan adalah kunci yang sangat strategis, bila kader dakwah kita menunjukkan sikap yang positif, mau bekerjasama , terbuka dengan siapa saja, serta menunjukkan niat untuk terus belajar dan memperbaiki, saya sangat yakin perubahan itu dapat terjadi dengan baik. Kita tentu tidak menginginkan perubahan yang hanya memicu polemik, hal ini bias memicu isu bahwa kader dakwah hanya ingin “berkuasa”, bukan ingin membangun organisasi kemahasiswaan yang ada.
Keteladanan dapat kader contohkan dengan mengusulkan idea tau gagasan program yang inovatif, atau dengan kemampuan orasi yang membakar semangat, atau juga dengan sikap disiplin dan professional yang dijalankan sehari-hari. Pada akhirnya, sikap seorang kader adalah bagian dari dakwah itu sendiri, sehingga perlu dipersiapkan dengan baik, bagaimana caranya agar seorang kader dapat menjadi “al-amin” dalam setiap komunitas ia beraktivitas.
  1. 2. Kader sebagai solusi perubahan bukan kunci dari stagnansi dinaminisasi organisasi
Sebagai seorang kader siyasi, seorang kader perlu dengan matang menyiapkan diri dengan baik, baik itu dari sikap, cara pandang, dan tingkat dinamisasi kader itu sendiri. Jangan sampai kebiasaan dakwah di lingkungan yang heterogen dan dengan tingkat tekanan dakwah yang standar anda bawa ke lingkungan dakwah siyasi yang menuntut banyak ide besar serta stamina dakwah yang panjang. Penting kiranya, kita sama-sama ingat bahwa kehadiran seorang kader di siyasi bukan sekedar untuk meramaikan saja, melainkan untuk membuat perubahan di lingkungan dakwah siyasi tersebut. Untuk itu, seorang kader dituntut untuk memiliki kemampuan dan pengalaman yang lebih ketimbang mahasiswa lain pada tingkat yang sama.
Dalam bagian sebelumnya, terkait profil kader dakwah siyasi, penulis sempat mengutarakan mengenai bagaimana seorang kader siyasi yang memiliki referensi luas tentang berbagai macam isu. Seorang kader siyasi dapat berdakwah dengan lembaga yang formal melalui gagasan dan ide baru yang selalu ia tularkan dan sebarkan kepada forum mahasiswa dan diterima sebagai sebuah gagasan yang positif. Jangan sampai kader siyasi tidak mampu berdebat dan berdialektika dengan sesama aktifis mahasiswa lainnya.
Sebagai seorang rakyat, para mahasiswa tentu berharap pemimpin mereka mampu membuat perubahan ketika memimpin, mereka ingin perubahan itu cepat, satu tahun sudah cukup lama untuk massa kampus. Oleh karena itu, perubahan yang cepat dan signifikan menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi para pemimpin kemahasiswaan di kampus masing-masing. Gudang ide perubahan sebisa mungkin disiapkan dengan matang sebelum memimpin, dan ketika tampuk kepemimpinan itu tiba, maka kader sudah siap untuk mengeluarkannya dan mentransformasi menjadi ide nyata dalam bentuk strategi dan program.
  1. Membuat tahapan perubahan sistem dalam lembaga kemahasiswaan
Pertimbangan terakhir yang perlu dilakukan ketika mem-formalkan dakwah adalah dengan membuat pentahapan perubahan di internal sistem kemahasiswaan. Kebiasaan lama yang dinilai tidak cocok dengan nilai Islam perlu segera di adaptasikan secara perlahan, seperti –sebagai contoh- kebiasaan kegiatan band hingga larut ketika acara kemahasiswaan, kegiatan seperti ini cenderung berujung pada ikhtilat dan bersenang-senang berlebihan, sehingga perlu adanya penyesuaian dengan masuknya nilai-nilai Islam.
Sebagai contoh, kita bisa membagi masa kepengurusan menjadi triwulan, sehingga akan ada empat tahap dalam satu tahun kepengurusan;
Triwulan Pertama Triwulan Kedua Triwulan Ketiga
Target Pengenalan kader siyasi yang memiliki keteladanan serta memposisikan mereka di jabatan strategis Terekskusinya beberapa program yang memiliki nilai Islami dan diterima oleh massa kampus Adanya kepercayaan dari massa kampus bahwa kader dakwah dapat memimpin dengan baik.
Strategi Menempatkan kader terbaik di posisi strategis, baik di dalam badan eksekutif, kepanitiaan atau lembaga lainnya. Memastikan di setiap kementerian / departemen terdapat program-program pembaharu yang melahirkan sebuah cara pandang baru dalam kemahasiswaan Konsisten dalam menyapa dan mengenalkan program positif serta terus mengeluarkan opini mengenai keberhasilan kepemimpinan di tahun tersebut.
Indikator Diterimanya tokoh-tokoh dari kader sebagai seorang yang memang mampu untuk memimpin di posisi tersebut Program terlaksana dengan baik dan mendapatkan respon positif (partisipasi) dari massa kampus, terutama kelompok oposisi atau mereka yang tidak memilih calon kita di pemilihan raya Adanya keinginan / aspirasi dari massa kampus agar kepemimpinan kader dakwah dilanjutkan di tahun selanjutnya,.
Dampak Ketokohan Sosial (Syaksiyah Barizah) Lingkungan Islami (Bi’ah Islamiyah) Kepemimpinan yang Kokoh (Kuwwatu Rijal)
Berdakwah dalam sebuah lembaga yang formal tentu membutuhkan sebuah tahapan yang jelas dan konsisten. Perubahan tidak akan terjadi dengan instan diperlukan sebuah rencana yang matang. Dalam dakwah siyasi, diskursus mengenai rekayasa perubahan tentunya sudah menjadi hal yang perlu terus dimatangkan oleh para kader. Artinya, kader harus dinamis dengan berbagai perubahan yang ada, dan mampu beradaptasi dan mengadaptasikan strategi dakwahnya dengan cermat.(rya)

5 Jan 2012

Jangan Jadi Penikmat Dakwah!

Akhir-akhir ini, pertumbuhan organisasi Islam dan jumlah aktivis Islam semakin banyak, bahkan sangat banyak. Kalau kita masuk ke pelosok-pelosok desa, sudah semakin banyak jumlah aktivisnya. Apalagi di kota besar, di kampus-kampus sangat banyak aktivisnya.
Namun, kalau kita perhatikan lebih dalam, maka kita akan menemui dari sekian banyak aktivis yang ada hari ini hanya sebagian kecil yang benar-benar dengan serius mengemban amanah dakwah, hanya sedikit yang memiliki tekad yang besar dalam beramal. Bisa dihitung orang-orang yang sebenarnya paling pantas menyandang predikat sebagai aktivis Islam. Mungkin jumlah aktivis yang benar-benar ikhlas dan berkontribusi sungguh-sungguh tidak lebih dari puluhan saja. Dan mungkin Anda bisa menghafal nama-nama mereka karena memang sangat sedikit.
Data aktivis Islam itu hanya terlihat banyak di dokumen, arsip, dan database saja. Namun kemana semua aktivis Islam itu pergi saat ada proyek-proyek amal yang menuntut kontribusi? Jika kita mau jujur pada diri kita, hari ini, yang banyak adalah kader aktivis Islam yang hanya menjadi penikmat-penikmat dakwah. Yang hanya hadir dari majelis ke majelis ilmu, kemudian mereka menjadi pengamat yang begitu nikmat mengomentari ini dan itu tentang perkembangan dakwah Islam hari ini. Mereka merasa cukup dengan perubahan mereka dari seorang muslim yang biasa-biasa saja, kemudian hari ini mereka telah masuk dalam lingkaran aktivis Islam. Mereka berhenti dan merasa cukup dengan apa yang ada pada diri mereka hari ini. Jika Anda bertanya pada mereka di organisasi mana saya mereka aktif, maka sebagian mereka bisa menyebutkan begitu banyak organisasi tempat mereka aktif, rata-rata diatas lima sampai sepuluh organisasi, namun hanya terdaftar namanya saja.
Jika suatu ketika Anda bertanya tentang peran dan kontribusi mereka dalam dakwah sejak mereka menyatakan bergabung dengan barisan aktivis dakwah Islam, mereka hanya berkata, “Wah…, saya hanya simpatisan,” atau “Saya hanya pendengar saja,” ada juga yang lebih parah mengatakan “Saya terjebak!” dan kalimat-kalimat lainnya yang sejenis.
Hari-hari mereka penuh dengan rutinitas. Setiap pekan jasad mereka hadir dalam lingkaran-lingkaran ta’lim (halaqah). Jasad mereka juga hadir dalam rapat dan pertemuan-pertemuan kader dakwah. Mereka juga hadir dalam seminar-seminar dakwah. Mereka membaca buku-buku dakwah. Mereka sangat menikmati artikel-artikel Islam dan kajian-kajian dakwah. Dan hanya sebatas itu. Ya, sungguh hanya itu saja yang mereka lakukan.
Namun ada pula yang lebih parah, mereka tidak tertarik membaca buku, dan mulai malas-malasan hadir di pengajian, saat halaqah yang mereka pertontonkan hanya kelemahan mereka, dengan memamerkan wajah ngantuk mereka. Jika Anda bertanya pada mereka, berapa buku yang sudah mereka baca, maka mereka hanya menuntaskan membaca satu atau dua buku saja dalam setahun. Ada pula yang hanya asyik membaca novel-novel dan cerpen yang kesannya sangat Islami kisahnya. Mereka hanyut dalam angan-angan cinta yang “islami”. Padahal kalau mau berkaca, orang-orang di level mereka semestinya bukan lagi menjadi penikmat novel-novel dan cerpen. Harusnya buku yang mereka konsumsi adalah buku-buku yang berhubungan dengan pemahaman dakwah mereka, karena mereka telah berjanji setia bahwa mereka telah menginfakkan harta dan jiwa mereka untuk memperjuangkan dakwah Allah. Mana janji manismu?
Biasanya, jika Anda perhatikan kehadiran mereka dalam agenda-agenda dakwah. Kebiasaan terlambat sudah menjadi trademark mereka. Karena mereka hanya memberikan waktu siwa mereka untuk dakwah Islam. Atau sedikit saja dari harta mereka untuk diinfakkan dijalan dakwah.
Padahal Allah pernah berfirman, “Dan janganlah kalian memilih yang buruk lalu kalian infakkan darinya.” (QS Al Baqarah 267)
Lalu kenapa yang diinfakkan adalah waktu sisa? Uang receh yang sudah tidak lagi berharga bagi mereka? Bukan kah Allah hanya menerima yang terbaik dari hambanya?
dakwah ini membutuhkan waktu utama kita, bukan waktu sisa.
dakwah ini membutuhkan harta utama kita, bukan harta sisa.
dakwah ini membutuhkan usia muda kita yang produktif, kuat dan sehat.
Islam ini meminta yang paling baik, mulia, dan agung dari diri kita semua.
Kalau kita lihat kembali sejarah para sahabat dan orang-orang shalih di masa lalu, kita akan temukan Abu Bakar yang telah menyedekahkan seluruh hartanya untuk dakwah. Saat Rasulullah bersabda, “Wahai Abu Bakar, apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?”
Abu Bakar menjawab, “Aku sisakan Allah dan Rasul-Nya untuk mereka.”
Tentu kita pun tahu siapa yang menjadi penyandang dana pasukan ummat Islam saat Perang Tabuk berlangsung? Beliau adalah Utsman bin Affan. Kita bisa bayangkan bagaimana beratnya beliau penjadi donatur tunggal. Beliau yang membiayai semua kebutuhan pasukan Muslimin saat itu. Mulai dari perbekalan, kendaraan perang bahkan sampai membiayai persenjataan saat itu. Dan kita pun tahu saat perang Tabuk jumlah pasukan Muslimin yang beliau biayai, lebih dari sepuluh ribu pasukan. Dan masih banyak lagi contoh kontribusi dakwah terbaik yang dipersembahkan oleh aktivis Islam di masa lalu.
Apa yang kita temukan hari ini? Bukan tidak banyak orang yang kaya raya, dan mereka adalah Muslim. Dan mereka pun adalah aktivis Islam. Namun kita tidak melihat mereka berinfak untuk membiayai dakwah dengan harta terbaik mereka. Bisa diamati bagaimana mereka begitu berat mengeluarkan infak bulanan dari penghasilan mereka untuk membiayai dakwah. Siapa yang siap menanggung dan membiayai proyek dakwah yang dahsyat ini? Siapa?
Sahabatku, sebenarnya masih banyak yang perlu kita renungi tentang keberadaan diri kita selama kita telah memutuskan untuk beriltizam dengan dakwah ini. Ketika saya mengatakan “mereka” sesungguhnya saya tidak sedang menunjuk siapa siapa. Bayangkan dihadapat kita ada cermin. Lihatlah wajah kita dicermin itu. Bertanyalah pada diri apakah benar kita aktivis dakwah Islam? Seperti kitakah profil kader dakwah Islam itu?
Mari bertanya, jika memang kita mengaku sebagai aktivis dakwah Islam, sudah berapa orang yang kita ajak pekan ini untuk hidup bahagia bersama Islam? Berapa orang yang sudah menjadi lebih baik di lingkungan kita dengan keberadaan kita? Bagaimana anak-anak kita? Apakah mereka betul-betul sudah hidup dalam nilai-nilai dakwah Islam? Bagaimana dengan istri dan suami kita? Apakah kita sudah hidup Islami? Sudahkah kita mendakwahi keluarga kita, tetangga kita, orang tua kita, atau mungkin kita belum melakukan semua itu? Lalu siapakah kita sebenarnya?
Sahabatku, jangan sampai hanya nama kita saja yang terdaftar dalam keanggotaan semua organisasi dakwah. Jangan sampai kehadiran kita dalam kegiatan kegiatan dakwah hanya untuk setor wajah dan mengisi absensi. Kemudian duduk, dengar, dan diam.
Mari kita buktikan bahwa kita betul-betul telah beriltizam dalam dakwah ini. Karena Islam memerlukan aktivis yang rela berkorban dan berkontribusi. Tidak ada manfaatnya jika kita hanya menonton dan berkomentar saat melihat persoalan ummat ini.
Coba bandingkan saat lampu padam di gelap malam, ada seseorang hanya berteriak-teriak ditengah kegelapan, mengkritik pengelola listrik negara, dan seterusnya. Seorang aktivis yang baik adalah ketika tahu bahwa listrik padam dan ruangan menjadi gelap, mereka akan berdiri dari tempat duduknya kemudian bergerak mencari sesuatu yang bisa menggantikan cahaya lampu listrik, menyalakan lilin atau lentera.
Sahabatku, sungguh keshalihan itu bukan dari kata, kemuliaan itu bukan dari ucapan. Namun, dengan amal dan kerja nyata. Dan surga tidak akan bisa diraih tanpa melakukan perjuangan.

5 Nov 2011

Bekal Aktivis Dakwah Dalam Surat Al-Qalam

Berbicara tentang Surat Al Qalam yang berarti pena, maka kita akan sedikit juga berbicara tentang Juz 29. Surat ini adalah surat ke 68 dan termasuk surat-surat yang diturunkan di Mekah. Juz 29 merupakan juz yang banyak menjelaskan tentang dakwah, bekal, sejarah dan contoh-contohnya. Seperti dalam surat Al Mulk berisi bekal dai, Al Qalam bekal dai berupa ilmu yang benar, Al Haqqah bekal dai berupa tadzkirah, ada juga surat Nuh yang berisi contoh dai dari kalangan Manusia, dan surat Al Jin yang berisi contoh dai dari kalangan jin, dan surat-surat lainnya, seperti Al Muzzammil, Al Muddatstsir, dan lainnya.

Ada beberapa Hikmah yang terkandung dalam surat Al Qalam ini, pertama hikmah secara umum, sebagaimana surat-surat Makkiyah lainnya, Al Qalam juga berisi tentang taqrir yang memperkuat aspek aqidah serta penegasan penetapan kenabian Saw.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/10/15583/bekal-aktivis-dakwah-dalam-surat-al-qalam/#ixzz1ctHbyt41
Hikmah yang kedua, bersifat khusus, yaitu perintah untuk mengikat ilmu dengan menulis dan mencari ilmu dengan informasi yang benar atau shahih.

Pesan Khusus

- Urgensi Ilmu Bagi para dai

[68:1] Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis,

Ketika kita ingin mengajak orang kepada kebaikan, tentunya kita harus memiliki ilmu untuk meyakinkan argumentasi kita. Untuk itulah kenapa Ilmu begitu penting, sehingga Allah berfirman dalam surat Al Qalam ayat 1 tentang ilmu ini.

Inilah bekal yang Allah siapkan untuk para dai, agar memperhatikan ilmu dan menuliskannya dalam rangka menyebarluaskan ilmu sehingga bermanfaat tidak hanya pada masa sekarang tapi juga di masa yang akan datang, untuk generasi mendatang.

ayat ini menarik, karena secara tersirat Allah swt menuntun kita agar memperhatikan perkembangan dunia tulisan, yang dahulu kala menggunakan tinta, sekarang sudah melalui dunia maya. Seorang dai harus melek teknologi, karena tulisan era sekarang tidak lagi berupa dalam selembar daun, kertas, atau batu tapi sudah melalui teknologi eBook, internet, dan lain sebagainya.

- Pahala bagi seorang dai

[68:3] Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya.

Ketika kita mengamalkan apa yang diajarkan oleh Rasulullah saw, kita tentu akan mendapat pahala atas amal yang kita kerjakan. Akan tetapi Rasulullah saw, para sahabat, dan orang-orang yang mengajarkan ilmunya, juga akan mendapatkan pahala meskipun mereka telah tiada. Inilah yang disebut amal jariyah, yang tiada terputus. Inilah pahala yang besar yang tiada terputus bagi seorang dai, yang menyebarkan ilmunya kepada semua orang, baik diri, keluarga dan lingkungannya. Dan salah satu cara yang membuat karya dan dakwah kita terus menerus diikuti orang adalah dengan menuliskannya dalam sebuah artikel, buku, kitab dan media lainnya yang akan bermanfaat tidak hanya saat ini tapi juga beberapa generasi mendatang. Bayangkan berapa besar pahala yang akan kita dapatkan karena tulisan dakwah kita mampu membuka hidayah banyak manusia?

- Pentingnya Akhlaq sebagai bekal Dai

[68:4] Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.

Dalam hinaan dan cacian yang makin lama makin mencekam, Nabi saw menghadapi dengan santun dan akhlaq yang agung. Meski mendapat siksa, intimidasi, boikot dan segala bentuk upaya untuk menghentikan dakwah Nabi saw, akan tetapi Nabi saw bersama para sahabatnya tetap tegar. Inilah rahasia dakwah Beliau saw, akhlaq!

Hadapi segala rintangan dakwah ini, fitnah, dan kekerasan dalam bentuk fisik, dengan akhlaq yang baik, bijaksana dan dengan cara yang benar. Biarkan mereka yang menyakiti kita, melihat akhlaq kita, dan siapa tahu, mungkin esok ia akan menjadi penopang dakwah kita yang paling keras dan tegas terhadap musuh-musuh dakwah ini.

- Akhlaq terhadap para Pencela

Berikutnya, adalah akhlaq yang harus kita lakukan ketika menghadapi para pencela dan pelaku fitnah, dengan sangat jelas Allah menuntun kita dalam Ayat 7-12 berikut,

[68:7] Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dia-lah Yang Paling Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

[68:8] Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah).

[68:9] Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu).

[68:10] Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina,

[68:11] yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah,

[68:12] yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa,

- Futur Dalam Dakwah?

[68:48] Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdoa sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya).

[68:49] Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat nikmat dari Tuhannya, benar-benar ia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela

[68:50] Lalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang saleh.

Ia adalah Nabi Yunus as, yang memilih untuk meninggalkan kaumnya yang tidak mau menerima dakwahnya. Dan hal tersebut mendapat teguran dari Allah swt, yang kemudian, Nabi Yunus meminta ampun seperti dalam surat Al Anbiya ayat 87.

Doa inilah yang kemudian membuat Allah memberikan nikmat kepadanya dan ampunan.

[21:87] Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.”

Maka, inilah I’tirof Nabi Yunus as, sebagai bekal bagi para aktivis dakwah, ketika merasa tidak ada yang mengikuti panggilan dakwah ini dan bahkan memusuhinya, janganlah berputus asa, dan janganlah mundur, dan banyaklah membaca doa Nabi Yunus ketika di dalam perut ikan,

“tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.”

Wallahu’alam.

1 Agu 2011

Kamuflase Ramadhan

“Mohon maaf atas segala khilaf”
Ya, kurang lebih sms seperti itu yang masuk ke HP saya akhir-akhir ini. Tak heran karena memang tak lama lagi bulan Ramadhan akan kembali menghiasi hari-hari kaum muslimin di seluruh dunia. Semua orang yang berikrar sebagai muslim tentulah tahu keunggulan bulan suci Ramadhan karena memang keutamaannya senantiasa diucapkan dan dikabarkan para penceramah di masjid-masjid. Jika kita merenung, mengapa makna dari bulan Ramadhan begitu besar dan mendalam seakan menjadi titik tumpu setiap umat atas sejuta harapan untuk kehidupan yang lebih baik pasca Ramadhan. Tidak heran, jika muara Ramadhan yang ditandai dengan “Idul Fitri” dijadikan sebagai hari kemenangan setiap umat yang menunaikannya.
Bulan Ramadhan memang sangat luar biasa dalam menuntun manusia kembali ke dalam jalan Tuhannya. Bagaimana tidak, dapat kita saksikan fakta di sekitar kita bahwa banyak sekali fenomena yang khusus terjadi pada bulan suci ini, misalnya penuhnya jamaah sholat subuh di masjid-masjid yang biasanya sepi dari aktivitas sholat fardhu.
Sebelum berlanjut ke pembahasan selanjutnya, mari kita simak kebiasaan Rasul SAW dan para sahabat ketika bulan Ramadhan. Dahulu, Rasul SAW dan para sahabat senantiasa menyibukkan diri dalam beribadah. Di siang hari beliau tetap semangat beraktivitas dakwah dan di malam hari menyibukkan diri dalam sholat malam serta I’tikaf. Sekarang mari kita lihat fenomena umat islam saat ini, khususnya para pemuda. Di siang hari kebanyakan mereka mengurangi aktivitas dengan alas an berpuasa, kemudian bermalas-malasan. Di siang hari mereka memilih tidur siang dengan dalih tidur siang adalah ibadah. Memang benar, namun jika tidur siangnya orang berpuasa saja adalah ibadah lalu bias dibayangkan bila waktu tidur siang tersebut dilakukan untuk beramal sholih, tentu akan lebih berpahala besar. Sedangkan di sore hari, apa yang mereka lakukan? Mereka membuat daftar list masjid-masjid yang menyediakan buka puasa gratis nan dengan menu makanan yang di atas rata-rata. Manusiawi memang, namun kapan waktu yang disediakan untuk tilawah? Untuk sholat duha? Untuk membaca buku-buku islami?
Saudaraku sekalian, jangan sampai bulan suci Ramadhan yang benar-benar suci ini kita sambut dengan kesunngguhan ibadah kita yang hanya semu belaka, yang hanya bersemangat beribadah hanya dalam bulan Ramadhan. Ramadhan merupakan bulan latihan, yang artinya kita sebagai seorang muslim harus benar-benar siap menjalankan ibadah seusai Ramadhan. Semua orang mungkin sudah bosan dengan pernyataan ini. Tapi apakah kita pantas merasa muak dengan pernyataan ini sedangkan hal ini memang merupakan sesuatu yang harus kita laksanakan??
Rasa syukur yang tak terhingga kita panjatkan kepada Sang Pencipta alam semesta dan seisinya ini karena berkat kemurahan-Nyalah kita bisa melaksanakan puasa pada bulan Ramadhan tahun ini. Marilah kita bersama-sama merenungi kembali bagaimana ibadah puasa kita tahun ini. Apakah puasa kita tahun ini lebih baik atau sebaliknya dari tahun-tahun yang telah kita lalui. Yuk, mari bersama berusaha menjadi manusia yang lebih baik!

“Dalam samudera bisa diduga
Dalam hati siapa tahu
Ditunggu segera undangan buka puasa
Pasti bermakna ibadah Ramadhanmu”

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India