10 Mei 2016

Benarkah Kita Menginginkan Surga?

oleh : Ust. Muhammad Iltizam Amrullah

Ketika ada seseorang hendak mengajukan lamaran ke sebuah instansi tertentu, maka sudah pasti ia mengetahui dan faham apa hak-hak yang akan ia dapatkan jika bekerja di sana dan apa syarat-syarat yang akan ia dapatkan.

Misal:

Hak-hak yang akan ia dapatkan:

- Gaji 10jt/bulan
- Tunjangan keluarga
- Rumah dinas
- Mobil dinas

Maa syaa Allaah.. Bukan kah ini sebuah kenikmatan?.

Namun jangan lupa untuk mendapatkan semua hak itu, ia harus memenuhi syarat-syaratnya. Setidaknya, ia harus selesai S1. Tau kan berapa lama S1 ditempuh?

6th (SD) + 3th (SMP) + 3th (SMA) + 4th (S1)

Berapa? 16th.

Hanya untuk mendapatkan itu ia rela 16th belajar. Mengeluarkan biaya puluhan bahkan ratusan juta.
Lalu, untuk meraih surga-Nya yang kita bisa meminta apa pun yang kita mau di sana, yang nikmatnya tiada batasan..

Sudah berapa lama kita habiskan waktu untuk belajar mendapatkannya?

Lebih 16th kah? Atau sesenggangnya? Atau kalau kebetulan ada saja?

Sudah berapa puluh dan ratusan juta kita habiskan uang kita untuk mempelajari memahami firman-Nya dan sunnah nabi-Nya?

Lebih dari puluhan juta? Atau kita lebih mengajeni guru bhsa Inggris daripada guru ngaji kita yang mengajarkan ad-diin pada kita?

Sudah benarkah kita berharap surga?

Sudah jujurkah kita pada-Nya atas do'a kita yang meminta surga?

Sesuai kah tercerminkan do'a kita dalam aktivitas harian kita?

Berdoa berharap diterima ibadah kita dan masuk ke dalam surga, namun lebih sibuk dan berjerih payah tuk mendapatkan ilmu dunia tuk meraih dunia.

Rasulullah bersabda,
ابغض الرجال عند الله عالم بالدنيا و جاهل عن الاخرة

Orang yang paling dibenci di sisi Allah adalah seorang yang pintar dalam urusan dunia, namun bodoh dalam urusan akhirat.

0 komentar:

Posting Komentar

Pribadi seseorang tercermin dari apa yang diucapkannya.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India