23 Apr 2015

Sebuah Catatan Bersama Jamaah Tabligh

Beberapa waktu lalu, ada 2 saudara dari jamaah tabligh berkunjung ke kampus. Seperti biasanya, mereka tak sungkan berpakaian sunnah, celananya agak naik, berpeci dan jenggotnya panjang. Seakan, mereka tak menghiraukan suasana kehidupan di sini yang mana muslim jadi minoritas. Apalagi di tengah musim spring seperti saat ini, di mana para wanitanya acapkali berpakaian ala kadarnya. Kontras rasanya.

Pertama kali berkenalan, mereka terlihat sederhana, berwajah biasa saja, nampak zuhud. Tak terbayang sama sekali mereka dari kalangan orang kaya, apalagi dari orang yg berstrata pendidikan tinggi.

Setelah cukup lama berbincang, diri ini tersentak kaget saat bertanya,

"Dulu pernah kuliah di mana pak?"

Kemudian beliau jawab dengan nada biasa,

"Lulus S1 saya ambil jurusan international bussiness di Birmingham, setelah itu kerja di sana 5 tahun."

Mata dan hati jadi terbelalak, untuk beberapa saat tak berkedip. Kemudian bapak yang satunya saya tanya,

"Kalau bapak kerja di mana pak?"
"Saya 30 tahun kerja di Telkom. Sekarang sudah pensiun."

Tak berhenti sampai di situ. Saya lanjutkan beberapa pertanyaan ,

"Sudah pernah jaulah ke negara mana saja pak selain ke sini?"

"Ini kami di sini sedang program masturah 40 hari. Besok kami akan ke Hongkong. Sebelumnya kami sdh jaulah ke Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, Belgia, Rusia."

"Selain ke Eropa, apakah pernah?"

"Yang Kami belum pernah ke Afrika Selatan. India, Pakistan, Bangladesh, Australia, Amerika Serikat, Chili, Peru dan Uruguay alhamdulillah sudah pernah."

"Lalu untuk semua itu dapat ongkos darimana pak?"

"Dari Allah. Dari rezekinya Allah. Kebanyakan orang menganggap pintu rezeki hanya datang dari pekerjaan. Padahal ada 15 pintu rezeki. Dan pekerjaan itu adalah pintu paling akhir untuk menjemput rezeki."

Subhanallah. Terbantahkan sudah image jama'ah tabligh yg biasanya dikesankan sbg jamaah ekonomis yang tidak punya apa-apa. Fakta sudah berbicara, bahwa sebenarnya dalam segi strata sosial maupun materi kebendaan, harta dan pendidikan mereka tak kalah mentereng dengan yang lain. Hanya saja memang mata manusia ini sering terkelabui dengan balutan penampilan yang tak meyakinkan.

Dengan sedikit mengesampingkan kekurangan yg ada pada 'manhaj' mereka, bagaimanapun jamaah tabligh telah berjasa besar dan berkontribusi dalam mengajak kaum muslimin untuk kembali ke masjid.

Lalu..
Saya, kau dan kita ini, sudah berbuat apa?

1 komentar:

fauzan prasetyo mengatakan...

Berbuat baik pada mereka

Posting Komentar

Pribadi seseorang tercermin dari apa yang diucapkannya.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India