16 Des 2014

Dr. Abdullah Yusuf Azzam "Father of Global Jihad"


DR. Abdullah Azzam dilahirkan tahun 1941 di Desa Sailatul Haritsiyah, Palestina. Hafal Al Qur’an, ribuan hadits dan syair. Menikah pada usia 18 tahun, kemudian hijrah ke Yordania. Pada tahun 1966 meraih gelar Lc pada Fakultas Syariah Universitas Damaskus Syiria dengan cara studi jarak jauh (intisab). Tahun 1969 meraih gelar master. Tahun 1973 menyelesaikan Program Doktoral dalam bidang Ushul Fiqh di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir dengan predikat Asyraful ‘ula (cumlaude).

Tahun 1980 diusir pemerintah Yordania karena aktivitas keislamannya, kemudian mengajar di Universitas King ‘Abdul Aziz, saudi Arabia. Tahun 1982 hijrah ke Pakistan, karena ingin berkonsentrasi pada jihad Afghan. Tahun 1984 bekerja di Rabithah ‘Alam Islami sebagai Mustasyar (penasehat) dalam bidang Pendidikan untuk mujahidin Afghanistan.

Ketika di Yordania, beliau sudah berjihad di perbatasan Palestina – Yordania sampai beliau diusir pemerintah Yordania. Di Pakistan beliau berinteraksi dengan parapemimpim Mujahidin Afghan, seperti Ustadz Sayyaf, Hekmatyar, Burhanuddin Rabbani, dan Yunus Khalis. Sering beliau pergi ke medan jihad di Afghanistan. Setelah tahun 1967 pada Perang Enam Haridan Israel menduduki Tepi Barat, Syekh Azzam pindah ke Yordania dan bergabung dengan Ikhwanul Muslimin Palestina. Kemudian ketika berada di Peshawar (Daerah Pakistan), bersama dengan Usama bin Ladin yang juga teman dekatnya, Sheikh Abdullah Azzam mendirikan Baitul-Anshar (Mujahideen Services Bureau atau Kantor Pelayanan Mujahidin) dengan tujuan untuk menawarkan semua bantuan yang memungkinkan bagi Jihad Afghanistan dan Para Mujahid dengan cara mengadakan dan me-manage berbagai proyek yang menunjang Jihad.

Kesimpulan beliau tentang jihad afghan adalah bahwa jihad Afghan adalah jihad islami, hukumnya fardhu ‘ain. Umat Islam seluruh dunia wajib mendukung jihad Afghan. Sejak itu, Dr. Abdullah Azzam mengkonsentrasikan seluruh potensi dirinya pada jihad Afghan hingga menemui kesyahidannya pada hari Jum’at, 24 Nopember 1989, ketika mobil yang ditumpangi bersama kedua anaknya dalam perjalanan ke masjid untuk memberikankhutbah Jum’at meledak karena bom yang dipasang oleh musuh-musuh Islam.

Asy Syahid Abdullah Azzam telah berjihad di Palestina sebelum bergabung dengan para mujahidin di Afghanistan. Lantas beliau bertekad tidak akan berhenti berjuang atau meletakkan senjata dari tangannya sebelum melihat tegaknya Daulah Islamiyah dan negeri-negeri Islam yang dianeksasi kembali kepada pemiliknya (yakni kaum muslimin). Ibaratnya beliau adalah madrasah jihad yang riil (nyata). Dengan madrasah jihadtersebut, Asy Syahid mengembalikan kepercaaan diri umat serta menumbuhkan secercah harapan dalam relung hati mereka bahwa umat ini bisa mencapai kejayaannya kembali jihad menjadikan Al Jihad sebagai manhajnya dan melangkah di atas jalan Nabi serta para shahabatnya.

Demikianlah, Asy Syahid Abdullah Azzam menjadi pejuang yang gigih. Dia bekerja untuk mengembalikan umat yang telah jauh menyimpang dan lamat tersesat ke jalannya semula. Dan kita mendapatkan berita-berita yang menggembirakan itu dengan goncangan para penguasa lalim dan congkak serta hancurnya belenggu yang lama mengikat kesadaran umat Islam.

Asy syahid telah menjelajahi ayat-ayat tentang jihad dan hadits-haditsnya, lalu dia mniru langkah-langkah nabi dalam jihadnya, serta berjalan mengikuti jejak para shahabat dan para tabiin. Ketika asy syahid merasa bahwa pohon agama ini mulai layu dan kering, diapun memantapkan tekadnya untuk menyiram pohon tersebut dengan darahnya.

Orang yang menengok khotbah-khotbahnya, ceramahnya serta kuliah-kuliahnya akan merasakan kejujuran kata penyampainya. Adapun bukti yang paling kuat atas hal itu adalah asy syahid telah membuktikan kata-kata tersebut dengan darahnya yang suci. Ucapannya, pidatonya, kuliahnya telah dia tulis dengan darahnya sesudah dia tulis dengan keringat dan air matanya.
 
Syahid Saat Hendak Sholat Jumat

Tentu saja komitmen yang begitu tinggi pada Islam menimbulkan keresahan di kalangan musuh-musuh Islam. Mereka bersekongkol untuk membunuh beliau. Pada tahun 1989, sebuah bom diletakkan di bawah mimbar yang ia gunakan untuk menyampaikan khutbah Jumat. Bahan letupan itu sangat berbahaya dan ledakannya akan memusnahkan masjid tersebut bersama dengan semua benda dan jamaah di dalamnya. Tetapi dengan perlindungan Allah, bom tersebut tidak meledak dan ratusan orang Islam selamat.

Musuh-musuh Islam terus berupaya membunuh Abdullah Azzam. Pada hari Jum’at, 24 November 1989 di Peshawar, Pakistan, mereka telah menanam tiga buah bom di jalan yang sempit. Abdullah Azzam memarkirkan mobilnya di posisi bom pertama dan kemudian berjalan ke masjid untuk shalat Jum’at. Bom pun meledak dan Abdullah Azzam gugur bersama dengan dua orang anak lelakinya, Muhammad dan Ibrahim, beserta dengan anak lelaki al-marhum Sheikh Tamim Adnani (pejuang di Afghan).

Ledakan bom seberat 20kg TNT dilakukan dengan alat kontrol jarak jauh. Setelah ledakan kuat itu itu orang-orang keluar dari masjid dan melihat keadaan yang mengerikan. Hanya bahagian kecil dari mobil tersebut yang kelihatan. Anak Abdullah Azzam, Ibrahim, terpental 100 meter; begitu juga dengan dua orang anak-anak lagi. Serpihan mayat mereka bertaburan di atas kabel-kabel listrik.

Tubuh Abdullah Azzam ditemukan bersandar pada sebuah tembok, dalam keadaan sempurna dan tiada luka atau cedera kecuali sedikit darah yang mengalir dari bibirnya. Seperti itulah akhir kehidupan seorang Mujahid di dunia ini dan insya-Allah kehidupannya akan terus berlanjut di sisi Allah swt.Abdullah Azzam dikebumikan di Tanah Perkuburan Shuhada Pabi di mana beliau menyertai ribuan para syuhada. (era/trbw)

7 Des 2014

Unggul dalam Perkara Akhirat

Jika engkau melihat seseorang mengunggulimu begitu jauh dalam perkara dunia
Maka bersegeralah engkau mengunggulinya dalam perkara akhirat

Karena sesungguhnya perkara dunia itu hanya sementara
Sedangkan perkara akhirat itu akan mendatangkan kebahagiaan yang selama-lamanya

Maka sungguhlah kasihan seseorang, yang tatkala melihat orang lain berlimpah ruah dalam urusan  dunia, hatinya tetap bersedih

Tak tahukah dia bahwa keberkahan amalan akhirat amatlah mudah ia dapatkan?
Namun kebanyakan orang memang tak mengetahui

#terinspirasi dari Hasan Bashri


4 Des 2014

Kesalihan Sosial Adalah yang Utama

Betapa banyak dari sebagian bahkan mayoritas kaum muslimin mengharapkan dapat menjadi seseorang yang salih, yang senantiasa taat dalam menjalankan setiap aktivitas ibadahnya kepada Allah SWT. Hal ini tidak salah, bahkan menjadi anjuran yang ditekankan oleh agama, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah shollallahu’alaihi wa sallam dalam sebuah hadits,

“Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai anak Adam!, beribadahlah sepenuhnya kepadaKu, niscaya Aku penuhi (hatimu yang ada) di dalam dada dengan kekayaan dan Aku penuhi kebutuhanmu. Jika tidak kalian lakukan niscaya Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan dan tidak Aku penuhi kebutuhanmu (kepada manusia)”
 (H.R Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah & Hakim)

Ibadah-ibadah yang bersifat mahdhoh ini tentu saja akan meningkatkan level kesalihan seseorang secara individu. Namun cukupkah seseorang dengan kesalihan individu tersebut mendapatkan derajat yang tinggi di hadapan Allah ta’ala?

Kebanyakan orang menilai bahwa kesalihan seseorang dapat diukur dari banyaknya aktivitas-aktivitas ibadah ritualnya saja, misal dari banyaknya sholat yang dikerjakan, banyaknya puasa, ataupun bacaan dzikirnya. Padahal Rasulullah shollallahu’alaihi wa sallam justru lebih menekankan aspek kesalihan sosial daripada sekedar kesalihan individu.

Mari kita cermati beberapa buah hadits dari Rasulullah shollallahu’alaihi wa sallam berikut,

“Demi Allah tidak beriman. Demi Allah tidak beriman. Demi Allah tidak beriman. Para sahabat RA. bertanya: Siapakah gerangan ya Rasulallah? Beliau menjawab: “Dia adalah seseorang yang membuat tetangganya tidak merasa aman dari gangguan dan keburukannya” (HR. Al-Hakim).

“Tidaklah beriman kepadaku seseorang yang tidur malam dengan kenyang, sedangkan ia tahu bahwa, tetangga sebelahnya tengah kelaparan” (HR. At-Thabrani, Al-Bazzar dan lain-lain, serta dihasankan oleh Al-Albani).

Dalam hadits di atas jelas bahwa Rasulullah shollallahu’alaihi wa sallam sangat menekankan aspek kepedulian sosial dalam menentukan parameter keimanan seseorang. Bahkan beliau shollallahu’alaihi wa sallam sampai mengatakan tidak beriman seseorang yang membiarkan tetangganya kelaparan. Subhanallah !

Dalam hadits yang lain Rasulullah shollallahu’alaihi wa sallam bersabda,

“Penyantun janda tua dan orang miskin itu nilainya setara dengan orang yang berjihad fi sabilillah, atau seperti orang yang berpuasa tanpa putus dan yang shalat malam tanpa henti” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Maukah kalian Aku beri tahu tentang amal yang lebih tinggi daripada derajat puasa, shalat dan sedekah?”. Para ahabat menjawab: Tentu saja kami mau. Beliau lalu melanjutkan sabdanya: “Yaitu mendamaikan hubungan sesama. Karena rusaknya hubungan sesama itu ibarat gunting penyukur. Tapi bukan gunting yang mencukur rambut, melainkan yang menggunting agama” 
(HR. Abu Dawud).

“Muslim yang baik adalah ketika orang lain telah merasa aman dari gangguan lidah dan tangannya” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Sejenak kembali kita renungkan hadits di atas. Betapa banyak dari golongan salafussalih menginginkan agar dapat melaksanakan jihad di jalan Allah dan shalat malam. Karena memang amalamn-amalan ibadah itu adalah amalan yang amat agung pahalanya. Namun kembali beliau shollallahu’alaihi wa sallam menegaskan bahwa menyantuni fakir miskin dan mendamaikan sesama manusia adalah lebih afdhal (utama) dari semua ibadah ritual individu.

Begitulah islam mengajarkan kepada manusia. Dari sisi kemanusiaan pun islam tidak memperkenankan egoisme walaupun untuk kepentingan ibadah sekalipun. Islam adalah agama terdepan dalam mengusung konsep sosialitas dan solidaritas antar sesama. Dan memang benar, dengan kesalihan sosial ini islam akan tampil lebih indah dan mempesona di mata pemeluk agama lain.

Dengan semua itu, maka tak cukup bagi kita seorang muslim merasa puas atas capaian kesalihan individu saja. Saatnya menjadi muslim yang lebih bermanfaat untuk sesama.

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”.

(HR. Ahmad, Thabrani)


18 Nov 2014

Orang Beriman Bijak Menyikapi Realita

Tahan....
Walaupun hati bergejolak, nampaknya menahan diri dari mengeluarkan kata-kata cacian adalah lebih baik dan bijaksana daripada mengumbar emosi yg berlebihan.
Perkataan yg buruk hanya akan membusukkan hati, menggelapkan pikiran dan menjauhkan dari ridho Allah.
Soal ujian itu tidak berbahaya, yang berbahaya adalah kalau salah jawabannya. Persoalan hidup itu tidak berbahaya, yang berbahaya adalah kalau salah menyikapinya.
Dahulu, di zaman para sahabat pernah terjadi kenaikan harga barang-barang. Mereka lalu mengadukan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,
"Wahai Rasulullah, harga-harga barang banyak yang naik, maka tetapkan keputusan yang mengatur harga barang."
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab,
"Sesungguhnya Allah adalah Dzat yang menetapkan harga, yang menyempitkan dan melapangkan rezeki, Sang Pemberi rezeki. Sementara aku berharap bisa berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak ada seorang pun dari kalian yang menuntutku disebabkan kezalimanku dalam urusan darah maupun harta." (HR. Ahmad, Abu Daud, Turmudzi, Ibnu Majah, dan dishahihkan Al-Albani)
Mari, setidaknya kita berusaha beriman dan tunduk kepada takdir. Tidak terlampau gelisah dlm menghadapi kenaikan harga. Semua sikap ini tidak akan menjadi solusi, justru hanya akan memperkeruh keadaan.
Jatah rizki yang telah Allah tetapkan tidak akan bertambah maupun berkurang.
Terkait dengan hal ini, jauh-jauh hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan umatnya agar jangan sampai mereka merasa rezekinya terhambat.
“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian tidak akan mati sampai sempurna jatah rezekinya, karena itu, jangan kalian merasa rezeki kalian terhambat dan bertakwalah kepada Allah, wahai sekalian manusia. Carilah rezeki dengan baik, ambil yang halal dan tinggalkan yang haram.”
(HR. Baihaqi, dishahihkan Hakim dalam Al-Mustadrak dan disepakati Ad-Dzahabi)
Allah swt berfirman,
"Andaikan Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat."
(QS. As-Syura: 27)
Ibnu Katsir mengatakan maksud ayat di atas,
"Allah memberi rezeki mereka sesuai dengan apa yang Allah pilihkan, yang mengandung maslahat bagi mereka. Dan Allah Maha Tahu hal itu, sehingga Allah memberikan kekayaan kepada orang yang layak untuk kaya, dan Allah menjadikan miskin sebagian orang yang layak untuk miskin." (Tafsir Alquran al-Adzim,7:206)
Namun yg harus dicatat, hadist ini tidak dimaksudkan agar kita berdiam diri dan enggan melakukan aktivitas mencari rezeki. Tugas kita hanyalah meluruskan niat, sempurnakan ikhtiar dan akhiri dengan tawakkal.
Jaga sholat kita semahal apa pun harga pangan.
"Perintahkahlah keluargamu untuk shalat dan bersabarlah dalam menjaga shalat. Aku tidak meminta rizki darimu, Aku yang akan memberikan rizki kepadamu. Akibat baik untuk orang yang bertaqwa." (QS. Thaha: 132)
Selamat bekerja.



 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India