13 Mar 2016

Pemuda, Jangan Biarkan DIrimu Menua Tanpa Karya dan Prestasi


Apa yang membedakan pemuda dengan anak kecil?
Jiwanya merasa resah & pikirannya tajam menganalisa jika menemukan ketidakberesan disekitarnya.

Apa yang membedakan pemuda dengan orang tua?
Semangatnya membara,suaranya lantang, tangan dan kakinya bergerak bertarung dengan masalah yang ada di depannya.

Maka, jika engkau mendapati seseorang yang mengaku pemuda,
namun dia suka berleha-leha, tidak peka, malas memperjuangkan nasib sesama, diam mencari aman atas masalah di sekitarnya, dan tidak memiliki karya . . .

Jangan percaya !!!

Mungkin dia adalah anak kecil yang masih butuh banyak hiburan dan mainan
Atau barangkali dia adalah seorang tua renta yang butuh istirahat dan ketenangan
Atau memang dia pemuda, namun sedang sakit jiwanya

Sahabat, hidup di dunia hanya sekali, jangan biarkan tubuh dan ragamu menua tanpa karya dan prestasi !!

(Dikutip dan terinspirasi dari tulisan Ridwan Kamil dan Dalu N. Kirom)
*ilustasi : Chiang Kai Shek Momorial Hall

Harus Mengalami

Kelak suatu saat engkau akan jumpai bagian cerita hidupmu dihina orang, dicela, dituduh atas dugaan palsu dan hatimu pun menjadi terluka.

Mengapa?
 
Karena hati kita memang kadang harus terluka. Tak lain, hanya agar kita tahu bagaimana rasanya dilukai. Agar kelak kita tidak ikut melukai. Hidup kita kadang harus hancur. Agar kita tahu bagaimana rasanya dicaci, agar kita tidak ikut mencaci. Pikiran kita kadang juga harus jenuh, agar kita tahu bagaimana rasanya dijauhi. Agar kita tidak menjauhi. Raga kita kadang harus sendiri, agar kita tahu bagaimana rasanya sepi.
 
Seluruh jalan cerita hidup kita memang kadang harus acak-acakan, harus banyak lubang, terluka di sana sini. Agar kita tahu bagaimana rasanya dibenci, ditinggalkan, dibohongi, diolok-olok, dituduh, dan dibiarkan. Agar diri kita tidak membenci, tidak meninggalkan, tidak membohongi, tidak menuduh, dan tidak menjadi bagian dari orang-orang yang merusak cerita hidup orang lain.
 
Seluruh rasa kita kadang juga harus hancur berantakan. Agar kita tahu bagaimana rasanya tidak berbalas, tahu bagaimana rasanya khawatir, menunggu, ditunggu, diburu waktu, dikhianati, bertepuk sebelah tangan, berharap, dan bersatu. Agar diri kita menjadi lebih bijaksana, tidak gegabah dalam mengambil keputusannya.
 
Hidup kita kadang memang harus seperti itu. Harus mengalami. Hanya sekedar agar kita tahu bagaimana rasanya. Agar kita belajar, dan bisa menjadi lebih bijaksana.

*Inspirasi dari karya Kurniawan Gunadi, dengan penambahan dan perubahan kata seperlunya.

Taipei Menghadapi Gerhana 2016


Berdasarkan pantauan arah gerak matahari, Insya Allah besok Taiwan dan beberapa wilayah sekitarnya akan mengalami gerhana matahari partial (partial solar eclipse) meskipun dampak prosentase gerhana hanya berkisar antara 20-40% saja [1]. Untuk wilayah Taipei diperkirakan akan mulai pukul 08:19, peak position pada 09:15, dan berakhir pada 10:15.

Salah satu sunnah yg disyariatkan bagi muslimin ketika 'melihat gerhana' ialah mengerjakan sholat gerhana [2], memperbanyak dzikir, istighfar dan sedekah [3].

Yang afdhol adalah sholat gerhana dilakukan secara berjamaah di masjid, meski demikian tetap dibolehkan jika seseorang itu melakukan sholat gerhana sendirian di rumah karena suatu sebab tertentu sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Syafi'i dan Imam Nawawi.

Berkata Imam Syafi'i rohimahullah,

“Jika seorang laki-laki shalat kusuf (gerhana matahari) sendirian, kemudian mendapatinya kembali (dilaksanakan) bersama imam maka dia boleh shalat lagi sebagaimana yang boleh dia lakukan pada shalat fardhu. Demikian pula wanita, aku tidak melarang wanita yang parasnya tidak terlalu rupawan, juga untuk para wanita tua, anak-anak kecil untuk menghadiri jamaah shalat kusuf bersama imam, justru aku sangat senang mereka melakukan itu. Tapi yang berparas menawan aku sukai untuk shalat di rumah mereka masing-masing.” [4, 6]

Berkata Imam Nawawi rohimahullah,

“Siapa yang shalat sendirian maka dia tak perlu khutbah. Disunnahkan membaca dengan keras pada gerhana bulan dan pelan pada gerhana matahari. Inilah yang dikenal. Tapi Al-Khaththabi mengatakan, yang diambil dari madzhab Asy-Syafi’i adalah beliau membaca dengan keras pada shalat gerhana matahari.” [5, 6]

Kesimpulannya adalah boleh sholat gerhana dilakukan sendirian di rumah bagi pria maupun wanita, tanpa khutbah, namun tata cara shalatnya tetap sama dengan shalat gerhana secara berjamaah yakni dikerjakan dua rakaat dengan dua kali ruku' di setiap rakaatnya [6].

Kemudian yang juga perlu diketahui, bahwa sikap muslim ketika melihat gerhana ini seharusnya adalah dia merasa takut, cemas dan khawatir, karena memang begitulah yang sudah Nabi SAW contohkan. Beliau SAW khawatir akan terjadi hari kiamat [7]. Gerhana bukan merupakan waktu berpesta. Tidak seyogyanya seorang muslim saat gerhana tiba malah bersuka dan berfoto ria atau bahkan menggelar pesta yang menghadirkan artis ibu kota.

Semoga kita semua senantiasa berada dalam lindungan-Nya.

Referensi :

[1] www.timeanddate.com, 8 Maret 2016
[2] Intisari H.R Bukhori no. 1047
[3] Intisari HR. Bukhari no. 1044
[4] Penjelasan Imam Syafi'i dalam kitab Al Umm 1/281
[5] Penjelasan Imam Nawawi dalam kitab Raudhatu Ath-Thalibin 2/85
[6] Penjelasan Ust. Anshari Taslim, Lc, Maret 2016
[7] Intisari HR. Muslim no. 912

Tentang Praktik dan Pengalaman

Alhamdulillah, akhir pekan yang menyenangkan.

Hikmah hari ini :

"Terkadang, memang ada ilmu dan pengetahuan yang tidak bisa didapatkan hanya dari sebuah buku dan bacaan, melainkan harus ditimba dari praktik dan pengalaman." (Adziimaa, 2016)


 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India