11 Apr 2011

Makan dan Berguraulah Sesuai Nabimu


Sungguh, betapa beruntungnya kita menjadi orang yang terpilih memeluk Islam. Kita patut bersyukur, melalui agama ini, Allah memilihkan semua hal yang terbaik yang tak dimiliki agama lain di dunia. Melalui Rasulullah Muhammad, Allah memberi tuntunan hidup untuk seluruh ummat manusia.
Allah s.w.t. telah memilih dan mengangkat para Rasul yang diberi wahyu tentang peraturan hidup yang dapat membimbing manusia menempuh jalan hidup yang lurus dan benar. Islam mengatur segala hal, bahkan hal-hal yang tak pernah dibayangkan manusia. Hatta, masalah kecil dan hal remeh-temeh. Masalah bersuci, hubungan suami-istri sampai bersiwak (membersihkan gigi).

Sayangnya, banyak orang Muslim tak benar-benar menerapkan anjuran Rasullah. Bahkan tak sedikit kaum Muslim tidak mengerti tata-cara yang dibenarkan dalam Islam untuk urusan-urusan kehidupan mereka.Mulakan dari Kanan

Suatu ketika, tak lama sepeninggal Rasulullah Muhammad, kota Madinah banjir air mata atas kepergian beliau. Semua ummat Islam kota itu seolah tak percaya Muhammad telah pergi. Tak beberapa lama, datanglah seorang arab badui menemui Umar. \"Ceritakan padaku akhlak Muhammad!\". Umar menangis mendengar permintaan itu. Ia tak sanggup berkata apa-apa. Ia menyuruh Arab badui tersebut menemui Bilal. Setelah ditemui dan diajukan permintaan yg sama, Bilal pun menangis, ia tak sanggup menceritakan apapun. Bilal hanya dapat menyuruh orang tersebut menjumpai Ali bin AbiThalib.

Ali dengan linangan air mata berkata, \"Ceritakan padaku keindahan dunia ini!.\" Badui ini menjawab, \"Bagaimana mungkin aku dapat menceritakan segala keindahan dunia ini….\" Ali kemudian menjelaskan sambil mengutip QS. Al-Qalam:4,berupa pujian Allah atas ahlaq Muhammad. \"Engkau tak sanggup menceritakan keindahan dunia padahal Allah telah berfirman bahwa sungguh dunia ini kecil dan hanyalah senda gurau belaka, lalu bagaimana aku dapat melukiskan akhlak Muhammad , sedangkan Allah telah berfirman bahwa sungguh Muhammad memiliki budi pekerti yang agung.”

Begitulah Rasulullah Muhammad. Apa yang disukai Muhammad dilaksanakan semua sahabat. Apa yang dibencinya juga dihindari para sahabatnya.

Rasulullah adalah orang yang mengajarkan kita memulai segala sesuatu dari sebelah kanan. Beliau membuka pakaian dengan memulakan sebelah kanan dan menanggalkan dari sebelah kiri.

Ibunda kaum Mukminin, ‘Aisyah RA, pernah mengungkapkan, “Sesungguhnya Rasulullah SAW menyenangi mulai bersuci dari anggota badannya yang sebelah kanan, juga ketika bersisir dan ketika memakai sandal.”

Cara Berpakaian

“Apabila Rasulullah memakai pakaian baru, maka disebutkanlah namanya (misalnya surban atau gamis) lalu beliau berdoa, ‘Ya Allah, hanya bagimu segala puji, sebagaimana Engkau beri aku pakaian, aku mohon pada-Mu kebaikannya, dan kebaikan bahan yang dibikin. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan dan keburukan bahan yang dibikin’.” (Riwayat Abu Dawud, at-Tirmidzi dan an-Nasai)

Kadang Rasulullah mengenakan kain berwarna merah, hijau, atau kuning, namun beliau lebih menyukai warna putih. “Hendaklah kalian berpakaian putih, untuk dipakai sewaktu kalian hidup. Dan jadikanlah ia kain kafan kalian waktu kalian mati. Sebab kain putih itu sebaik-baik pakaian bagi kalian.” (Riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah,, Tirmidzi)

Hudzaifah Ibnul Yaman ra (seorang sahabat Rasulullah yang masuk Islam sebelum perang Badar) berkata,” Rasulullah memegang otot betisku dan betis kakinya, lalu bersabda, ‘Inilah tempat batas (bawah) sarung. Jika kau tidak suka di sini, maka (boleh) diturunkan lagi (sedikit). Jika kau tidak suka juga, maka tidak ada hak lagi bagi sarung menutup kedua mata kaki.” (Riwayat Tirmidzi, Ibnu Majah dan an-Nasai)

Cara Makan

Ibnu Abbas ra mengatakan,” Rasulullah Saw dalam keadaan lapar beberapa malam berturut-turut, demikian pula keluarganya. Mereka tidak mendapatkan makanan untuk makan malam. Sedangkan jenis makanan mereka yang paling sering dimakan adalah roti yang terbuat dari Sya’ir (bahan gandum yang paling rendahmutunya) . (Riwayat Ibnu Majah dan Tirmidzi)

Abu Ayub al-Anshari ra bercerita,” Pada suatu hari, kami berada di rumah Rasulullah Saw, maka beliau menyuguhkan suatu makanan. Aku tidak mengetahui makanan mana yang paling banyak berkahnya pada saat kami mulai makan atau di bagian yang paling akhir.” Abu Ayub kemudian bertanya,” Wahai Rasulullah, bagaimanakah caranya hal ini bisa terjadi? Rasulullah Saw bersabda,” Sesungguhnya kami membaca nama Allah jika akan makan, kemudian duduklah seseorang yang makan tanpa menyebut nama Allah, maka makanannya disertai setan.”(Diriwaytkan oleh Qutaibah dari Ibnu Luhai’ah dari Yasid bin Habib dari Rasyad bin Jandal dari Hubeib bin Aus yang bersumber dari Abu Ayub al-Anshari)

Cara Minum

Anas bin Malik menceritakan,” Sesungguhnya Nabi Saw menarik nafas tiga kali pada bejana bila beliau minum. Beliau bersabda,’Cara seperti ini lebih menyenangkan dan menimbulkan kepuasan.”(Riwayat Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasai). Hadis ini menunjukkan bahwa minum dengan sekali habis tidak baik.

Cara Bicara

‘Aisyah RA mengabarkan,” Rasulullah Saw tidak berbicara cepat sebagaimana kalian. Tetapi beliau berbicara dengan kata-kata yang jelas dan tegas. Orang yang duduk bersamanya dapat menghafal kata-katanya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Anas bin Malik berkata, “Rasulullah Saw suka mengulang kata-kata yang diucapkannya sebanyak tiga kali agar dapat dipahami.” (Riwayat Bukhari dan Tirmidzi)

Gurau dan Syair

Baik gurau maupun ungkapan syair yang disampaikan Rasulullah Saw adalah berisi kebenaran. Rasulullah tidak pernah menyelipkan kebohongan saat bergurau, agar orang tertawa, sebagaimana dilakukan banyak orang.

Abu Hurairah ra berkata, “Mereka (para sahabat) bertanya, ‘Wahai Rasulullah, Apakah engkau suka bergurau kepada kami?’ Beliau bersabda,’Ya. Tapi apa yang kukatakan (saat bergurau) tidak lain hanya kebenaran.” (Riwayat Tirmidzi) .

Jundub bin Sufyan al-Bajali RA mengabarkan,”Jari jemari Rasulullah Saw tertimpa batu dan berdarah, maka beliau pun bersabda(bersyair) , ‘Engkau hanyalah jari jemari….kau berdarah. Dan kau mengalaminya di jalan Allah.”(Riwayat Bukhari-Muslim)

Cara membaca Al-Qur’an

Qatadah berkata,”Aku bertanya kepada Anas bin Malik ra, ‘Bagaimanakah bacaan (Al-Qur’an) Rasulullah SAW?’ Ia menjawab, ‘Bermad (bertajwid)’.” (Riwayaat Bukhari, Nasai, Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Ummu Salamah bercerita,”Rasulullah SAW memotong bacaannya (pada setiap ayat). Beginilah cara membacanya, ‘Alhamdulillahi Rabbil ‘Aalamin’, kemudian beliau berhenti. Selanjutnya dibaca, ‘Arrahmanirrahim,’ kemudian beliau berhenti. Selanjutnya dibaca, ‘Maliki yaumiddin’.” (Riwayat Tirmidzi, Abu Dawud, Nasai)

Tempat Tidur Rasulullah

Ibunda kaum Mukminin, ‘Aisyah RA bercerita, ”Sesungguhnya hamparan tempat tidur (kasur) Rasulullah SAW terbuat dari kulit binatang, sedangkan isinya terbuat dari serabut kurma.” (Riwayat Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Baik kepada Pekerja

Anas bin Malik ra bercerita,” Aku menjadi pembantu Rasulullah SAW selama sepuluh tahun. (Selama itu) beliau tidak pernah mengatakan, ‘Uf!’ (hus). Dan tidak pernah pula beliau menggugatku karena sesuatu yang aku kerjakan (dengan perkataan), ‘Mengapa kau kerjakan begini?!’ Dan tidak pula (menggugat) karena ada sesuatu yang tidak kukerjakan (dengan perkataan), ‘Mengapa tidak kau kerjakan?!”(Riwayat Abu Dawud, Tirmidzi) *

Demikian segelintir dari sekian banyak akhlak mulia beliau yang patut kita contoh.

1 Apr 2011

90% syuro, 10% ilmu


Saya tidak ingin bertele-tele. Bahwa saya sangat menikmati kehidupan pasca lembaga.

Saya bisa menimba ilmu lebih banyak, saya merasa menjadi pembelajar yang sebenarnya. Hidup saya lebih normal dengan pemenuhan hak ilmu yang selama ini saya zhalimi.



Sejenak berpikir, alangkah para aktivis dakwah kampus (ga semuanya sih, yang ga ngerasa ga usah tersinggung ya.. Hehe) miskin ilmu tapi kaya syuro. Tak terbayangkan bila satu orang diberikan amanah lembaga yang doble triple, syuro mungkin udah kayak minum obat. Pagi syuro, trus kuliah, trus ada syuro, trus kuliah, trus nyuci, trus ada sms dadakan yang isinya taklimat mas'ul, trus pergi lagi. Di dalam dadanya gegap gempita "saya akan berdakwah Ya Allah".

Apalagi kalo jadi pimpinan besar di lembaga ato tokoh yang lumayan aktif di kampus, para senior sudah berbinar-binar siap-siap nembak buat ditempatkan di amanah yg selanjutnya. Pake dalil kekekalan amanah: amanah tidak akan hilang, hanya berpindah dari satu amanah ke amanah yang lain. Kalo ga mau, akan ada gencatan dari berbagai penjuru supaya siap, mau ga mau, ini demi dakwah, katanya. InsyaaAllah, kalo soal kuliah, pasti Allah akan menolong. Sungguh prasangka yang sangat baik, tapi menurut saya agak menyedihkan.Yang di atas cuma deskripsi ekstrim yang mungkin kenyataannya ga selebay itu, ato mungkin aja ada yang lebih lebay. Hmm..mungkin ga salah dengan pola syuro full day, tapi ada satu syarat: apakah hak ilmu kita sudah terpenuhi? Bukan ilmu kampus doang, ilmu yang dipakai buat berdakwah itu lho.. Tidak semua dari ADK berasal dari pesantren dengan bekal ilmu yang luar biasa, yang bahasa arabnya udah di luar kepala, yang hafalan qurannya ga cuma 3 juz dari belakang. Kalau memang bekal ilmu sudah tumpah ruah, maka syuro all day dan malamnya benar-benar maksimal buat ilmu&ibadah, okelah. Tetapi mirisnya betapa banyak ADK yang lebih memprioritaskan syuro dibanding kajian-kajian. Udah ngaret, sepi lagi. Ketika ditanya ttg fiqih cuma bisa senyum-senyum. Ketika diajak ngobrol tentang pemikiran Islam, cuma cengar-cengir. Ketika ditanya hafalan Quran, tiba-tiba langsung batuk-batuk. Ketika disuruh baca Al Quran, tajwidnya masih ala kadarnya. Ketika ditanya seminggu ikut berapa kali kajian, jawabnya cuma sekali itu pun sebenarnya liqo pekanan. Sibuk jadi panitia seminar, tapi ga ngerti isinya apaan. Ketika ditanya definisi syahadat dan bagaimana penjelasan dari segi bahasanya, baru nyadar kalo ga ngerti-ngerti amat. Ketika ditanya buku fiqh apa yang sudah tamat dibaca, ternyata jawabannya kitab Google. Ketika ditanya buku tafsir apa yang dipunyai sebagai pegangannya, jawabannya sama: tafsir Google. Ketika diminta kultum, kultum Google. Alangkah hebatnya aktivis dakwah kampus, syuro lari sana-lari sini, permasalahannya seputar VMJ, tugas-tugas kuliah kurang jadi prioritas, di kelas ngantuk dan ga dapet apa-apa, akhwat pulang malam-ikhwan ngebiarin aja, problematika lembaga biasanya miskin kader atau gontok2an sama rival, ngapalin Quran cuma di sisa-sisa tenaga padahal fesbukan selalu sempet, kajian kalo sempet doang padahal tau kalo dirinya miskin ilmu, belajar bahasa Arab baru level syukron-afwan-jazakallah-akhi-ukhti. Sebenarnya kita mau mendakwahi apa sih, kawan-kawan? Udah lulus mau ngapain sih?



Udah ga musim lagi aktivis dakwah punya IP di bawah rata-rata, telat kuliah, bolos karena alasan syuro.

Kalo gitu ga usah kuliah aja. Malu-maluin. Jadilah aktivis dakwah saja, bukan aktivis dakwah kampus. Biar kuliah ga terzhalimi, lembaga jadi lebih fokus. Kecuali kalo ngampus tujuannya biar dapet ijazah, ya "bolehlah". Hehe. Kayaknya saya fatalis banget ya? Saya hanya kasian dengan teman-teman ADK jika dari tahun ke tahun polanya sama. Menganggap syuro lebih mulia dibanding menuntut ilmu. Tidak adil dalam membagi pola waktunya, antara ilmu dan lembaga dakwah kampusnya. Udah ilmu keprofesiannya ga bagus-bagus amat, IP standar, ilmu da'awiy nya juga minim. Yang paling sedih jika kuliah di fakultas ilmu sosial-humaniora tapi ga paham pemikiran Islam. Itu sama aja mau menyelam ke lautan tapi ga bisa berenang. Akhirnya kelelep.



Percayalah, Hasan al Banna berdakwah berdasar ilmu yang ga instan.



Udah ah,

Mungkin saya hanya iri dengan sekelompokan kawan-kawan saya yang begitu memurnikan aqidahnya dan tumpah ruah ilmunya.

Semoga kita bukan termasuk ADK yg instan.

Yang kuat karena lingkungan, namun rapuh ketika sendirian.

26 Jan 2011

Menculik Murobbi


Hari ini jadwal liqo pekanan…
Para mutarabbi sudah berbenah pakaian…
Setelah kemarin menyiapkan setoran hafalan…
Mutarabbi ikhwan sudah siap sedia dengan baju koko plus alqur’an..

Semua binaan sudah siap menerima kajian..
Sembari posisi duduk membentuk lingkaran…
Lama ditunggu kok murabbi-nya belum juga datang?
Kemana gerangan?

Tumbe-tumbennya telat datang sampai jam sekian?
Ditelpon malah mailbox yang jawab “Silahkan tinggalkan pesan” Waduh…waduh…masing-masing mutarabbi udah pasang muka tegang
Takut kalo halaqah pekan ini bakal di batalkan…
Padahal lagi semangat pengen dapat pencerahan…
Pada saat genting itulah sang ketua kelompok memberi aba-aba untuk tetap tenang..
Sembari mengeluarkan ide aneh tapi brilian…
“Gimana kalo kita coba datangi rumah beliau? Barangkali disana beliau ada halangan yang tidak bisa ditinggalkan. Sepakat teman-teman?”
Tanpa pikir panjang semua pun mengacungkan tangan tanda kesepakatan..

Akhirnya rombongan mutarabbi tiba juga di rumah Murabbi yang sederhana tapi menyejukkan…
Didepan rumah ketemu sama istri Murabbi yang lagi nyapu halaman…
Setelah mengucapkan salam barulah mereka menyampaikan maksud dan tujuan…
Owwhh…istri Murabbi bilang kalo suaminya memang lagi ada urusan…
Mendadak disuruh tetangga kampung sebelah jadi saksi anaknya yang mau nikahan…
Akhirnya mereka memutuskan minta alamat yang empunya hajatan…
Dan bergegas menuju kesana dengan motor masing-masing berboncengan…
Cuma satu motor yang sengaja dibawa sendirian…
Buat nanti boncengin Murabbi yang memang ga punya alat transportasi alias kendaraan..

Sesampainya di tempat walimahan mereka memasang mata pelan-pelan…
Mencari sosok sang Murabbi yang jadi incaran…
Ohhh….itu beliau yang lagi ngobrol sambil makan-makan…
Tanpa basa-basi lagi mereka lalu mendatangi sang Murabbi yang kaget melihat mereka bukan kepalang…
Baru sadar…kalo beliau lupa menyampaikan ketidakhadiran sama para binaan….
Setelah menyampaikan alasan mereka dengan maksud yang ahsan…
Sang Murabbi pun mohon pamit sama empunya hajatan untuk segera pulang…
Dengan siaga para mutarabbi mempersilahkan sang Murabbi untuk ikut mereka ketempat halaqah di kost-nya si Fulan..

Alhamdulillah…misi “menculik” Murabbi pun kesampaian…
Hehe…walaupun caranya dengan terang-terangan…
Ga kaya di Film yang penculiknya berwajah sangar dan menyeramkan..
Ini sih..yang nyulik semuanya penculik amatiran…
Berwajah teduh tapi menenangkan bagi siapapun yang memandang…
Eitss…hanya berlaku buat ikhwan…

Happy ending…semuanya pun kembali pada agenda kajian pekanan yang sempat tertunda beberapa jam berselang…
Demi misi sebuah drama penculikan…
“Menculik” Murabbi kesayangan….

11 Jan 2011

Akankah harakah Dakwah Bersatu?


Sebagai umat Islam, pasti dalam kehidupannya memimpikan terwujudnya kejayaan Islam seperti dahulu, dimana kondisi masyarakatnya sejahtera, adil, aman dan madani. Untuk merealisasikan mimpi tersebut, maka terbentuklah harakah-harakah dakwah yang secara umum memiliki tujuan yang sama yaitu terbentuknya masyarakat madani (khilafah Islamiyah) hanya saja dengan manhaj (metode) yang berbeda satu sama lain.

Namun sungguh disayangkan ketika tujuan mulia tersebut kemudian dikotori dengan arogansi kelompok yang muncul di level akar rumput, saling mencaci, saling menjatuhkan, bahkan (maaf) saling meng-kafirkan satu sama lain karena merasa kelompok merekalah yang paling benar. Tanpa mereka sadari bahwa kaum lain, yang benci umat Islam bersatu, sesungguhnya sedang tertawa.....Tertawa karena begitu mudahnya memecah belah umat ini. Naudzu billahi min zalik.

Yang menjadi pertanyaan besar sekarang adalah, bisakah suatu saat nanti harakah-harakah tersebut bergabung menjadi jama'atul muslimin bukan lagi minal muslimin? Bukankah itu lebih baik tujuan yang sama itu lebih cepat terwujud.

Apakah ada upaya-upaya dari para qiyadah jama'ah tersebut untuk menyatukan langkah dan tidak saling mencari kesalahan?

Jawab:
Adanya kelompok semacam ikhwan, HT, salafi dan lainnya hanya sekedar sebuah ijtihad. 100 tahun yang lalu semuanya tidak pernah ada. Bagaimana mau ada, lha wong para pendirinya saja belum lahir?

Jadi kelompok-kelompok itu sebelumnya tidak pernah ada, dan sangat mungkin suatu hari nanti semuanya akan musnah hilang dari lembar sejarah.

Apalagi umat ini setiap saat berganti generasi, setiap dekade punya pahlawannya sendiri-sendiri. Selama sejarah panjang 1400 tahun, kita sudah memiliki ribuan pergerakan, bahkan kita pernah punya ratusan daulah Islamiyah.

Yang besar-besar saja, yaitu khilafah Islamiyah, kita pernah punya sampai empat kali. Khilafah Rasyidah selama 30-an tahun. Lalu khilafah Bani Umayyah di Damaskus selama kurang lebih 90-an tahun. Lalu khilafah Bani Abbasiyah di Baghdad, yang berkuasa ratusan tahun lamanya. Hingga terakhir kita punya khilafah Turki Ustamni yang mengakhirikejayaannya di tahun 1924 kemarin.

Ikhwan, salafi, HT dan sejenisnya sebenarnya mewakili pergerakan umat Islam di abad 20, yaitu setelah bubarnya khilafah terakhir. Berbagai harakah ini sebenarnya boleh dibilang semacam alternatif dari kekosongan khilafah dan kemunduran umat. Apalagi saat itu adalah masa kolonilisme dan imperialisme barat atas umat Islam.

Ada banyak prestasi yang sudah diraih selama abad 20, ada banyak peta yang berubah, dan ada begitu banyak kemunduran yang pernah ditelan.

Nah, bukan tidak mungkin di abad 21 ini, peta pergerakan berubah lagi. Boleh jadi nama-nama pergerakan di abad 20 akan hilang dan musnah. Kemudianberganti dengan pergerakan lainnya lagi. Atau bisa saja tetap ada dan masih berjaya terus. Dan bisa jadi pula khilafah Islamiyah yang pernah hilang selama 100-an tahun itu muncul lagi. Kita tidak pernah tahu. Karena semua itu rahasia Allah SWT.

Kalau anda tertarik untuk banyak menelaah masalah seperti ini, kami sarankan anda membaca sebuah karya menarik. Dalam kitabnya, Al-Muslimun baina Qarnain, (umat Islam di dua abad terakhir), Dr. Yusuf Al-Qaradawi banyak bercerita tentang hal ini. Selain segudang prestasi, umat Islam juga mengalami berbagai macam kemunduran.

Benturan Ikhwan, Salafi dan HT

Secara aqidah, ketiga kelompok ini sama-sama ahlussunnah wal jamaah. Bahkan para petingginya saling berhubungan erat. Kalau ada perbedaan, sebenarnya masalah teknis bekerja di lapangan.

Kalau HT lebih senang memulai dari membangun khilafah, ikhwan lebih suka mulai dari pembinaan pribadi hingga akhirnya baru khilafah. Sedangkan Salafi mungkin lebih sering bicara masalah pemurnian aqidah dan memberantas bid'ah.

Tetapi ketiganya sama-sama memakai Al-Quran yang sama, hadits yang sama, dan bernabi kepada nabi yang sama. Nyaris tidak ada perbedaan mendasar dari ketiganya.

Kalau ada kesan satu sama lain saling berbeda, sebenarnya hanya fenomena di level akar rumput. Boleh jadi masing-masing pendukung 'kesebelasan' terlibat baku hina, baku caci dan baku ejek. Memang perlu disayangkan, sebab seharusnya sikap-sikap tidak dewasa seperti itu tidak perlu terjadi. Selain haram hukumnya, yang malu kita-kita juga kalau ditertawakan oleh barisan orang kafir.

Tetapi apa mau dikata, begitulah barangkali ciri-ciri suporter sebuah kesebelasan. Bisanya hanya saling mencaci dan menabuh genderang. Kalau disuruh main bola yang sesungguhnya, belum tentu bisa.

Logika sederhananya, kalau mau akur dan rukun, ada dua jalur yang perlu dipikirkan.

Pertama, jalur kesadaran dari masing-masing elit kelompok. Para petinggi masing-masing kelompok perlu sering-sering bertemu danduduk bersama. Semua pihak harus sadar bahwa di level akar rumput memang sudah terjadi hal-hal yang kurang baik. Adalah merupakan tanggung-jawab masing-masing elit kelompok itu untuk meredam, menahan diri dan menertibkan pada pengikutnya.

Kedua, barangkali kesadaran dari elitnya belum muncul, kita bisa berharap dari akar rumput masing-masing. Penyadaran untuk saling akur dan rukun tidak selamanya harus top down, bisa saja bersifat bottom-up. Dari bawah ke atas.

Untuk itu memang perlu sosialisasi tentang kesadaran kerukunan dan berukhuwah, mengurangi perbedaan pandangan yang mengarah kepada perpecahan, bahkan perlu kajian dan analisa tentang dampak negatif dari munculnya keributan antara kelompok.

Kita mungkin belum mampu untuk mengatakan kepada masing-masing kelompok untuk masing-masing membubarkan diri lalu bersatu dalam satu wadah bersama. Tetapi setidaknya kita bisa berharap bahwa masing-masing tetap berjalan beriringan, saling bela, saling hormat, saling sayang, saling melengkapi dan saling bersikap husnudzdzan.

Mungkin tidak ada salahnya, masing-masing kelompok diajak untuk membahas dna merenungi ayat-ayat berikut ini:

Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (QS. AlHujurat: 8)

Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang lalim. (QS. AlHujurat: 10)

Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang lalim. (QS. AlHujurat: 10)

(Dikutip dari era muslim)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India