8 Feb 2012

Ketika Dakwah di Lembagakan secara Formal

Tantangan dakwah akan bertambah berat ketika lembaga kemahasiswaan seperti BEM atau Himpunan telah terkondisikan oleh para ADK. Mereka dituntut untuk mampu menjawab bagaimana dakwah dapat dilaksanakan pada sebuah lembaga formal yang mereka pimpin. Tentunya tidak sekedar memimpin seadanya saja, berbagai gebrakan perlu dilakukan agar massa kampus dapat merasakan perbedaan mendasar kondisi kampus ketika seorang aktivis dakwah yang memimpin dengan ketika kelompok lain.
Untuk menjawab pertanyaan ini, pertama-pertama sayang ingin mengajak sahabat semua untuk memiliki cara berpikir yang bijaksana ketika telah memimpin sebuah lembaga kemahasiswaan. Kita perlu meyakini bahwa memimpin lembaga kemahasiswaan bukan berarti kita akan mendominasi keseluruhannya dan mengubah BEM atau Himpunan tak ubahnya seperti sebuah Lembaga Dakwah Kampus. Cara pandang ini perlu diubah agar nantinya kepemimpinan kita dapat lebih bermanfaat untuk massa kampus.
Berbicara tentang mengformalkan dakwah dalam lembaga non-dakwah adalah sebuah tantangan tersendiri, disini kita tidak berbicara tentang koptasi lembaga, melainkan tentang menyentuh lembaga tersebut dengan nuans kebaikan. Sifat heterogenitas dari lembaga kemahasiswaan tersebut baiknya tetap dipertahankan agar tetap dapat menjadi sebuah pembelajaran bagi kader dakwah.

Setidaknya ada tiga hal yang perlu dipertimbangkan ketika dakwah dilembagakan secara formal, dalam bagian ini, kita akan mencoba untuk membahasnya satu persatu;
  1. 1. Utamakan keteladanan daripada pemaksanaan gagasan
Kembali, keteladanan adalah kunci yang sangat penting dalam memastikan sentuhan dakwah kita terasa oleh objek dakwah. Pemaksaan gagasan melalui perubahan peraturan yang tiba-tiba atau dengan melarang tradisi yang telah ada, akan memunculkan permasalahan baru tersendiri. Ingat, ketika memimpin di lembaga kemahasiswaan bukan berarti kita bebas melalukan hal-hal yang kita inginkan dengan segera, coba hargai proses yang bertahap.
Keteladanan adalah kunci yang sangat strategis, bila kader dakwah kita menunjukkan sikap yang positif, mau bekerjasama , terbuka dengan siapa saja, serta menunjukkan niat untuk terus belajar dan memperbaiki, saya sangat yakin perubahan itu dapat terjadi dengan baik. Kita tentu tidak menginginkan perubahan yang hanya memicu polemik, hal ini bias memicu isu bahwa kader dakwah hanya ingin “berkuasa”, bukan ingin membangun organisasi kemahasiswaan yang ada.
Keteladanan dapat kader contohkan dengan mengusulkan idea tau gagasan program yang inovatif, atau dengan kemampuan orasi yang membakar semangat, atau juga dengan sikap disiplin dan professional yang dijalankan sehari-hari. Pada akhirnya, sikap seorang kader adalah bagian dari dakwah itu sendiri, sehingga perlu dipersiapkan dengan baik, bagaimana caranya agar seorang kader dapat menjadi “al-amin” dalam setiap komunitas ia beraktivitas.
  1. 2. Kader sebagai solusi perubahan bukan kunci dari stagnansi dinaminisasi organisasi
Sebagai seorang kader siyasi, seorang kader perlu dengan matang menyiapkan diri dengan baik, baik itu dari sikap, cara pandang, dan tingkat dinamisasi kader itu sendiri. Jangan sampai kebiasaan dakwah di lingkungan yang heterogen dan dengan tingkat tekanan dakwah yang standar anda bawa ke lingkungan dakwah siyasi yang menuntut banyak ide besar serta stamina dakwah yang panjang. Penting kiranya, kita sama-sama ingat bahwa kehadiran seorang kader di siyasi bukan sekedar untuk meramaikan saja, melainkan untuk membuat perubahan di lingkungan dakwah siyasi tersebut. Untuk itu, seorang kader dituntut untuk memiliki kemampuan dan pengalaman yang lebih ketimbang mahasiswa lain pada tingkat yang sama.
Dalam bagian sebelumnya, terkait profil kader dakwah siyasi, penulis sempat mengutarakan mengenai bagaimana seorang kader siyasi yang memiliki referensi luas tentang berbagai macam isu. Seorang kader siyasi dapat berdakwah dengan lembaga yang formal melalui gagasan dan ide baru yang selalu ia tularkan dan sebarkan kepada forum mahasiswa dan diterima sebagai sebuah gagasan yang positif. Jangan sampai kader siyasi tidak mampu berdebat dan berdialektika dengan sesama aktifis mahasiswa lainnya.
Sebagai seorang rakyat, para mahasiswa tentu berharap pemimpin mereka mampu membuat perubahan ketika memimpin, mereka ingin perubahan itu cepat, satu tahun sudah cukup lama untuk massa kampus. Oleh karena itu, perubahan yang cepat dan signifikan menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi para pemimpin kemahasiswaan di kampus masing-masing. Gudang ide perubahan sebisa mungkin disiapkan dengan matang sebelum memimpin, dan ketika tampuk kepemimpinan itu tiba, maka kader sudah siap untuk mengeluarkannya dan mentransformasi menjadi ide nyata dalam bentuk strategi dan program.
  1. Membuat tahapan perubahan sistem dalam lembaga kemahasiswaan
Pertimbangan terakhir yang perlu dilakukan ketika mem-formalkan dakwah adalah dengan membuat pentahapan perubahan di internal sistem kemahasiswaan. Kebiasaan lama yang dinilai tidak cocok dengan nilai Islam perlu segera di adaptasikan secara perlahan, seperti –sebagai contoh- kebiasaan kegiatan band hingga larut ketika acara kemahasiswaan, kegiatan seperti ini cenderung berujung pada ikhtilat dan bersenang-senang berlebihan, sehingga perlu adanya penyesuaian dengan masuknya nilai-nilai Islam.
Sebagai contoh, kita bisa membagi masa kepengurusan menjadi triwulan, sehingga akan ada empat tahap dalam satu tahun kepengurusan;
Triwulan Pertama Triwulan Kedua Triwulan Ketiga
Target Pengenalan kader siyasi yang memiliki keteladanan serta memposisikan mereka di jabatan strategis Terekskusinya beberapa program yang memiliki nilai Islami dan diterima oleh massa kampus Adanya kepercayaan dari massa kampus bahwa kader dakwah dapat memimpin dengan baik.
Strategi Menempatkan kader terbaik di posisi strategis, baik di dalam badan eksekutif, kepanitiaan atau lembaga lainnya. Memastikan di setiap kementerian / departemen terdapat program-program pembaharu yang melahirkan sebuah cara pandang baru dalam kemahasiswaan Konsisten dalam menyapa dan mengenalkan program positif serta terus mengeluarkan opini mengenai keberhasilan kepemimpinan di tahun tersebut.
Indikator Diterimanya tokoh-tokoh dari kader sebagai seorang yang memang mampu untuk memimpin di posisi tersebut Program terlaksana dengan baik dan mendapatkan respon positif (partisipasi) dari massa kampus, terutama kelompok oposisi atau mereka yang tidak memilih calon kita di pemilihan raya Adanya keinginan / aspirasi dari massa kampus agar kepemimpinan kader dakwah dilanjutkan di tahun selanjutnya,.
Dampak Ketokohan Sosial (Syaksiyah Barizah) Lingkungan Islami (Bi’ah Islamiyah) Kepemimpinan yang Kokoh (Kuwwatu Rijal)
Berdakwah dalam sebuah lembaga yang formal tentu membutuhkan sebuah tahapan yang jelas dan konsisten. Perubahan tidak akan terjadi dengan instan diperlukan sebuah rencana yang matang. Dalam dakwah siyasi, diskursus mengenai rekayasa perubahan tentunya sudah menjadi hal yang perlu terus dimatangkan oleh para kader. Artinya, kader harus dinamis dengan berbagai perubahan yang ada, dan mampu beradaptasi dan mengadaptasikan strategi dakwahnya dengan cermat.(rya)

1 komentar:

uul mengatakan...

Walau dakwah telah dilembagakan, satu hal lagi yang terus harus kita ingat bukan? Dakwah adalah hakekat, hakekat yang berasal dari jiwa. Ketika suatu saat, dakwah kita tak bisa diterima dengan akalpun, dakwah masih akan tetap bisa tertembus dengan hati. Tak perlu banyak ucap dan sikap pun, akan bisa diterima. Bagaimana???

Posting Komentar

Pribadi seseorang tercermin dari apa yang diucapkannya.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India