19 Mei 2014

Islam Memandang Masa Depan




Setiap orang tentu punya masa lalu. Masa lalu yg kelam, kekanakan, labil, bahkan sampai yg lebay. Atas masa lalunya itu sebagian ada yg malu, ada yang heran, sampai ada yg tak percaya bahwa itu adalah dirinya.

Namun untungnya islam tak melihat masa lalu..

Teringat Amirul Mu'minin Umar bin Khatab yang menjadi mulia setelah dirinya hina. Khalid bin Walid yang menjadi panglima perang terpandang padahal sebelumnya adalah penentang.

Maka..
Islam itu memandang akhir, bukan awal.

Tak perlu risau seburuk apapun diri kita di waktu lampau. Cukup gunakan masa lalu sebagai pelajaran dan sejarah hidup yg tak perlu disesali. Karena sesungguhnya tidaklah ada penyesalan, yg ada adalah pembelajaran.

Yang terpenting, sudahkah kita membenahi diri utk mempersiapkan akhir terindah dalam kehidupan kita untuk bersiap menjemput kepastian takdir yg akan datang dari-Nya (?)

8 Mei 2014

Ujian Kesenangan



Selama ini kita menganggap ujian yg berbahaya itu ujian yang susah2 saja, seperti disakiti orang, ditipu orang, susah jodoh, sakit, sepatu hilang, dll.


Kita kebanyakan menganggap ujian yg bahaya itu ujian yg tidak enak, padahal ujian yang tidak enak seperti itu banyak yang berhasil menjadikannya sebagai sarana untuk dekat dengan Allah dibanding ujian kesenangan. 

Kita jarang menganggap naik jabatan itu ujian,
kita jarang menganggap bisa beli mobil itu ujian,
Kita jarang menganggap bisa lulus jad sarjana itu ujian,
Kita jarang menganggap rupawan itu ujian,

Kita baru mnganggap kalau muka pas-pas itu ujian, padahal muka ganteng itu lebih berat ujiannya,
Kita sering menganggap sakit itu ujian, padahal sehat itu juga ujian,
Kita sering menganggap dihina itu ujian, padahal dipuji itu jauh lebih berat ujiannya..

Sesungguhnya,
Penghinaan yang membuat kita bisa sadar dan memperbaiki diri jauh lebih baik dari pada pujian yang membuat lalai dan lupa diri.

#UjianKesenangan 

Mempertanyakan Al Ikhwan Al Muslimun sebagai Jamaah Jihad


Sebagai salah satu jamaah dakwah yang berkomitmen menegakkan kalimat tauhid, Al Ikhwan Al Muslimun terus berusaha melebarkan sayap dakwahnya hingga ke seluruh pelosok dunia. Tak dipungkiri, jamaah ini terus berkembang hingga menjadi salah satu kelompok islam terbesar di dunia. Pergerakannya yang syumul dan komprehensif dengan memasuki ranah dakwah politik, perekonomian, pendidikan, dan sosial budaya telah membuat jamaah bentukan dari imam as syahid Hasan Al Banna ini mudah diterima oleh banyak kalangan, mulai dari rakyat jelata hingga elite pejabat Negara sekalipun.

Keseluruhan ladang dakwah yang menjadi garapan Al Ikhwan Al Muslimun itu bukannya tanpa celah untuk menjadikannya bahan olokan dan cibiran oleh kelompok lain, bahkan dari kalangan islamis sendiri tak sedikit yang mengoloknya. Dakwah Al Ikhwan Al Muslimun yang dianggap terlalu toleran dan ‘sedikit pro’ barat, misalnya perjuangan dakwah melalui  parlemen dan demokrasi, telah menyulut banyak kontroversi di kalangan ulama-ulama. Tak sedikit cibiran, cemoohan dan ejekan tertuju pada jamaah ini hanya karena Al Ikhwan Al Muslimun turut terlibat dalam sistem demokrasi tanpa melihat jerih payah lain yang telah saudara-saudara ikhwan lakukan.

Sindiran acapkali datang dari ulama-ulama dan aktivis anti demokrasi, khususnya dari ulama dan aktivis islamis jihady. Mereka mempertanyakan ijtihad Al Ikhwan Al Muslimun yang tidak mau berjuang lewat jalan jihad sebagaimana jalan yang telah dituntunkan oleh Rasul Muhammad SAW. Bahkan tidak sedikit yang melabeli jamaah Al Ikhwan Al Muslimun sebagai jamaah pendukung thogut dan sudah masuk kategori jamaah kuffur karena tidak menggunakan hukum Allah sebagai pedoman hidup. Mereka menganggap Al Ikhwan Al Muslimun  sudah melenceng dari manhaj Rasul SAW, menyebutnya jamaah oprtunis karena sering cari aman, dan enggan melaksankan jihad qital. Intinya mereka mempertanyakan konsistensi dan komitmen Al Ikhwan Al Muslimun terhadap syariat jihad yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya sebagaimana telah dituliskan pada kitab suci Al Quranul Karim.

Dari sini menarik untuk dicermati, apakah benar Al Ikhwan Al Muslimun menolak jihad dan lebih menyukai demokrasi?

Tak kenal maka tak tahu, sebelum kita memberikan justifikasi ini itu kepada Al Ikhwan Al Muslimun, mari kita kenali seluk beluk jamaah ini dari para penggagasnya. Dalam kitab Majmuaturrasail jilid 2 karangan imam as Syahid Hasan Al Banna, telah disebutkan terkait syariat jihad, bahwa jamaah Al Ikhwan Al Muslimun haruslah  memegang teguh syariat jihad. JIhad sebagai mutiara berharga yang hilang ditengah-tengah umat islam, maka ummat harus menjaganya. Karena esensi jihad yang sebenarnya adalah ujung tombak penggerak bagi kejayaan dan Izzah Islam wal Muslimin. Hal inilah yang membuat Imam Hasan Albanna menyoroti dan menyadarkan ummat terhadap pentingnya makna risalah jihad dan kewajiban atasnya berdasarkan kitabullah dan hadist-hadist shahih disertai pendapat para Ahli Fiqih.

Selain itu, Syaikh Fathi Yakan, salah satu aktivis Al Ikhwan Al Muslimun dalam kitabnya yang berjudul Nahwa Wa’yin Harakiyyin Islami Abjadiyyatut Tashawwur Al Haraki lil Amalil Islami (Prinsip-Prinsip Gerakan Islam), pada prinsip yang kelima beliau mengatakan bahwa tarbiyah jihadiyah atau pendidikan jihad adalah satu elemen penting dalam gerakan islam. Beliau memahami betul bahwa persepsi perjuangan jihad ini banyak dipahami berbeda-beda oleh setiap kelompok islam. Ada kelompok yang menolak cara jihad secara keseluruhan. Mereka merasa cukup dengan perjuangan yang lebih rendah dari jihad secara fisik, semisal jihad melawan hawa nafsu jihad mencari nafkah, jihad dengan amar makruf nahi munkar, tanpa memikirkan sama sekali untuk jihad menggunakan senjata dalam mengubah tatanan masyarakat dan mewujudkan revolusi islam. Ada juga kelompok islam yang tidak mau kompromi dengan segala bentuk kerusakan, satu-satunya jalan meraih kemenangan adalah dengan jihad qital atau jihad senjata. Ada juga  jamaah yang menganggap jihad qital hanya dapat dilakukan ketika syarat-syarat untuk melakukan jihad tersebut telah terpenuhi, misalnya ketika musuhnya jelas adalah orang-orang kuffar yang memerangi agama. Pada prinsipnya, Syaikh Fathi Yakan telah menanamkan agar dirinya dan kaum muslimin untuk tetap teguh memegang jalan jihad, sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Syahid Hasan Al Banna pada kitab Majmuatur rasail.

Setelah kita paham akan kandungan ajaran dan tokoh Al Ikhwan Al Muslimun, sekarang kita buktikan apakah benar Al Ikhwan Al Muslimun enggan melaksanakan jihad qital sebagaimana yang dituduhkan. Tentu kita ingat dengan perang Afghanistan, perang besar yang melibatkan berbagai kekuatan besar dunia, yaitu Uni Soviet, Amerika, dan Umat Islam. Perang Afghanistan ini sejatinya sudah dimulai sejak era tahun 1970-an. Ketika itu Uni Soviet melakukan invasi atas Negara Afghanistan untuk menguasai minyak dan sumber daya alam agar tetap dapat mempertahankan hegemoninya sebagai salah satu Negara adikuasa di dunia selain Amerika. Para ulama saat itu termasuk Syaikh bin Baz di Saudi menyerukan fatwa wajibnya Jihad fi sabilillah membela kaum muslimin di Afghanistan. Pasukan jamaah jihad di Afghanistan mencapai puncaknya setelah Sayyid Quthb yang merupakan pembesar Al Ikhwan Al Muslimun di Mesir menulis kitabnya yang berjudul Ma’alim fi al-Tariq (petunjuk jalan) dari bilik penjara. Buku Sayyid Qutub ini telah mengisnpirasi jamaah jihadi dan kaum muslimin secara besar-besaran berduyun-duyun berangkat ke Afhganistan untuk melaksanakan syariat jihad membela kaum muslimin yang tertindas. Tak ayal, jamaah Al Ikhwan Al Muslimun menjadi fraksi terbesar dalam kelompok jihad di perang Afghanistan tersebut, melebur dan bergabung bersama jamaah islam lainnya seperti dari kalangan salafi jihadi. Tak ketinggalan kader Al Ikhwan Al Muslimun yang memiliki ruh jihad tinggi, yakni Syaikh Abdullah Azam dan Muhammad Qutb (adik Sayyid Qutb) ikut eksodus dari Mesir untuk turut serta berjihad melawan penjajah.

Sekarang kita simak realita kedua yang akan kita awali dengan sebuah pertanyaan, “Siapakah yang saat ini komitmen mempertahankan dan berjuang untuk membela tanah Palestina dari tangah penjajah Israel?” Jika kita cerdas dan mau jujur, jawaban hanya mengerucut pada satu kata, yaitu Hamas (Harakat al-Muqawwamatul Islamiyyah).  Hamas didirikan oleh Syaikh Ahmad Yassin yang telah berbaiat menjadi anggota cabang Al Ikhwan Al Muslimun di Palestina. Latar belakang berdirinya Hamas juga tak lepas dari sikap Fatah, kelompok islam terdahulu yang ada di Palestina yang terlalu bersikap lunak dengan penjajah Israel. Sampai saat ini Hamas tetap komitmen menjadi sayap Al Ikhwan Al Muslimun di Palestina dan tak kenal kompromi terhadap Israel. Bahkan seringkali Israel mengajukan permohonan gencatan senjata tatkala kalah perang dengan brigade Al Qassam, tentara pejuang Hamas.

Saudaraku sekalian, kenalilah orang lain terlebih dahulu sebelum kalian memberikan vonis-vonis negatif kepada mereka. Bisa jadi mereka adalah orang baik yang terkadang kebaikannya sulit kita lihat hanya karena mata kita yang pedih lantaran terkena setitik debu kejelekan.

Silakan ambil kesimpulan, semoga Allah merahmati. Barakallahu fii umrik,
Selamat berjuang...



Surabaya, 8 Mei 2014

*dimuat di dakwatuna.com & bersamadakwah.com






6 Mei 2014

(Waspadai) Dajjalisme Media


Jika kita bisa memilih, tentu kita tak ingin hidup di akhir zaman, di mana huru-hara fitnah akhir zaman amat begitu mengerikan bagi orang-orang yang mengetahuinya. Jika kita boleh memilih, tentu kita akan memilih hidup di jaman Rasullullah shollalahu'alaihi wasallam dan menjadi bagian dari pasukan Nabi untuk menegakkan tauhid di atas muka bumi dan berjuang bersama para sahabat lainnya.

Namun, hidup di masa kini bukanlah keinginan kita, melainkan adalah bagian dari takdir-Nya yang sengaja Allah pilihkan untuk menguji, apakah diri kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang yakin terhadap agama-Nya?

Tak penting, tak perlu bersedih apalagi sampai menyesal meratapi hidup di akhir zaman yang penuh fitnah ini. Allah swt. tak akan menghisab dan mempertanyakan, "Mengapa engkau dilahirkan dan hidup di akhir zaman?". Ya, Allah swt tak akan menanyakan itu, karena itu adalah bagian kecil dari takdir dan kuasa-Nya. Melainkan Dia akan menanyakan, "Mengapa engkau tak ikut berjuang menegakkan tauhid tatkala engkau hidup di akhir zaman padahal sudah datang kepadamu Rasul yang mulia yang membawa risalah akhir zaman?"

Problema seorang muslim. Teringat sebuah hadist Rasul SAW, “Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari dimana orang yang sabar ketika itu seperti memegang bara api. Mereka yang mengamalkan sunnah pada hari itu akan mendapatkan pahala lima puluh kali dari kalian yang mengamalkan amalan tersebut. Para Shahabat bertanya: ‘Mendapatkan pahala lima puluh kali dari kita atau mereka?’ Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam menjawab: ‘Bahkan lima puluh kali pahala dari kalian’ “. (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Hakim) "

Tak ayal, banyak sekali fitnah yang kita hadapi saat ini. Mulai dari  berita bohong, pembunuhan karakter tokoh atau jamaah islam sekalipun kita jumpai marak di berbagai media. Fitnah itu pun tak jarang berasal dari saudara-saudara sesama muslim. Sungguh ironis, tragis, dramastis. Media dengan riang gembira bicara si ini begini dan si itu begitu tanpa adanya kroscek terkait keakuratan berita.

Ya... media bisa dibeli, uang bicara segalanya, sehingga tak salah jika media saat ini sebagai salah satu faktor tak terbantahkan untuk mengendalikan dunia.Sebagai contoh, media begitu antusias meliput dan mengurusi masalah HAM. HAM yang mana? tentu HAM yang menguntungkan pihak tertentu saja, bukan HAM menurut faham universal.

Kita ingat beberapa waktu lalu saat dunia dibuat heboh oleh hilangnya pesawat MH370 yang membawa 239 penumpang. Tak tanggung-tanggung, lebih dari 25 negara turut mencari jejak pesawat itu yang tentu mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, hanya karena sebuah misteri. “Ini adalah solidaritas kami terhadap prinsip kemanusiaan.” Demikian alasan yang sering mereka pakai untuk menunjukkan solidaritas. PM Australia, Tony Abbot bahkan menuturkan, “Kami tak memperhitungkan biaya pencarian ini, kami hanya melakukan apa yang perlu dilakukan untuk menyelesaikan misteri ini.”


Di tempat berbeda, tak jauh dari waktu hilangnya pesawat MH370, pengadilan Mesir menyatakan vonis mati untuk 529 anggota Al Ikhwan Al Muslimun, termasuk untuk presiden sah dan terpilih Mesir Muhammad Mursi. Sebuah putusan paling cepat dan paling zalim sedunia. Bagaimana bisa vonis mati diputuskan hanya dengan beberapa menit tanpa menghadirkan pelaku, saksi, dan pembela? Allahul Musta’an.


Maka ada benarnya apa yang dikatakan oleh Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi yang saat ini menjabat sebagai ketua MIUMI. “Para pembela kemanusiaan ternyata hanya akan membela manusia yang tidak ada kaitannya dengan agama Islam.”

Contoh lain, tepat 1 April 2014 Brunei Darussalam resmi menerapkan hukum Jinayah, hukum syariat islam sebagai sumber hukum utama Negara. Tak perlu menunggu waktu lama, berbagai protes dan kecaman keras keluar dari pegiat hak asasi manusia internasional. Mereka menilai pemberlakuan pidana syariah Islam itu adalah sebagai langkah mundur bagi perlindungan hak asasi manusia. Bahkan para selebritis Hollywood sepakat memboikot seluruh hotel di Brunei hanya gara-gara Brunei menerapkan hukum syariah. Tentu, media barat mendukung 100% kecaman ini.

Kita lihat, media begitu antusias meliput tentang HAM, tapi sangat antipasti terhadap berita kemanusiaan seorang muslim. Hari-hari ini kita disodorkan oleh media tentang tontonan reality show, akademi fantasy, Indonesian idol, kontes dangdut yang justru telah melakukan kejahatan spiritual kepada anak-anak dan generasi bangsa. Goyang oplosan yang seperti itu sangat digandrungi, jangankan oleh anak-anak kecil kita bahkan oleh seorang kakek-nenek pun sangat menikmati. Sedih, tragis, ironis.

Rasul SAW telah memperingatkan, kelak di akhir zaman akan datang Dajjal yang membawa kerusakan, perpecahan dan fitnah di muka bumi. Karena dahsyatnya fitnah Dajjal itu, Rasul SAW memerintahkan kita berdoa di akhir  sholat.

Secara fisik Dajjal adalah makhluk hidup bermata satu yang akan berada dan berjalan di tengah-tengah manusia. Namun secara budaya, dajjalisme telah hadir di tengah-tengah kita melalui campur aduknya informasi dan maraknya berbagai fitnah yang menyerang kebenaran. Inilah dajjalisme era media massa modern.

Mari kita jaga diri dan keluarga dari berbagai informasi yang tak jelas benar salahnya, Sesungguhnya hanya kepada Allah-lah kita berlindung.



Terinspirasi dari majalah Mulia BMH, edisi Mei 2014






 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India