16 Jun 2013

Karena Hanya untuk Allah lah Aku Bekerja

Mungkin aku bukanlah bagian seorang muslim yang bisa menjadi kebanggaan ummat..
Mungkin aku bukanlah siapa-siapa diantara kumpulan para kader dakwah yang hebat itu..

Tapi setidaknya aku bangga menjadi seorang muslim, merasa bahagia dapat berkumpul dan menjadi bagian dari pelaku kerja-kerja dakwah yang mulia..

Aku memang tak semengerti dengan mereka yang bisa sempurna dalam memperjuangkan dakwah..
Yang ku tahu hanyalah …
Dakwah tak akan pernah menuntut kesempurnaan hasil dari para pelakuya..

Dan aku sangat yakin bahwa dakwah lebih menilai keseriusan dalam kerja..
Dakwah tak kan pernah menuntut jumlah amanah yang diemban..
Kader dakwah yang hebat bukanlah dilihat dari seberapa banyak amanah yang diembannya.
Namun kader dakwah yang luar biasa adalah dia yang mampu menjaga dan menyeimbangkan amalan yauminya dengan amanah yang dipikulnya, baik di kala ramai maupun sendiri, baik di kala sehat ataupun sakit.

Jika pun aku kecewa karena dakwah.. dan terlalu sering aku kecewa karena dakwah..
Aku pun harus tetap tersenyum.
Karena aku bekerja untuk Allah. Karena Hanya untuk Allah lah Aku Bekerja.. bukan untuk mereka.

Saat tak ada yang menghargai jerih payah kerja dakwahku.. Allah pasti melihatku. Dan indahnya surga Firdaus itu pasti telah dipersiapkan untukku.

Saat dakwah telah berubah dari kesenangan menjadi sebuah kebosanan..
Dan saat semangat yang dulu membara kini telah menjadi kejenuhan..
Ku harus mengingat bahwa itulah godaan syaithan, yang selalu membisikkan kefuturan dalam dada umat manusia..

Lelah, kecewa, senang dan gembira adalah kesatuan rasa dalam dakwah dan kekeluargaan.
Kadang sendiri, dan kadang bersama-sama adalah sebuah keniscayaan dalam perjuangan..
Nikmatilah, karena setiap tetes peluh dan lelah akan menjadi saksi di yaumul qiyamah..

Bukanlah kesabaran jika masih berbatas,
Dan bukanlah keikhlasan jika masih kecewa,

Waktu beramal adalah singkat. Maka berdirilah dan berangkatlah !! kejar amalmu dan pahalamu sebelum ajal menjemputmu..

10 Jun 2013

Karena yang Muda Tak Perlu Banyak Bicara

Pemuda, memang sebuah kata yang sudah terlalu sering diperbincangkan sebagai agen yang diharapkan mampu untuk membawa bangsa dan negara ini bangkit dari segala keterpurukan. Berbagai macam teori dan gagasan penyemangat telah ditu
liskan untuk membakar semangat para pemuda untuk dapat berkontribusi secara riil dalam membangun masyarakat. Namun sudah seberapa terasakah peran pemuda dalam memajukan bangsa ini?

Tercatat jumlah pemuda Indonesia pada Oktober 2012 adalah sebesar 69 juta jiwa. Sebanyak itulah generasi muda Indonesia. Sebesar itulah kekuatan jiwa muda bangsa Indonesia. Namun sudah seberapa besar kemakmuran dan kesejahteraan bangsa Indonesia? Mungkin sebagian orang akan mengatakan, “Negeri ini masih biasa-biasa saja, masih jauh dari maju”. Dapat dikatakan bahwa pernyataan tersebut tidak sepenuhnya salah. Mengapa? Karena generasi muda sekarang adalah objek dari pembangunan negeri, bukan subjek. Pembangunan dan taat kelola negeri ini seringkali masih didominasi oleh generasi berumur yang telah kekurangan ide-ide segar untuk mengelola negeri. Maka jangan heran jika pemuda hanya bisa menjadi penonton dan penikmat pembangunan negeri yang sebenarnya tidak begitu enak ditonton apalagi dinikmati. 

Jika pemuda minim kontribusi, tak sepenuhnya mereka dapat dipersalahkan. Mengapa? Karena terlihat adanya ketidakpercayaan dari generasi berumur terhadap generasi muda untuk mengelola pembangunan bangsa. Ketakutan akan terjadinya kegagalan jika negeri ini dinahkodai oleh pemuda masih menjadi faktor utama yang menyebabkan generasi muda jarang mendapat kesempatan untuk berkiprah di dalam negeri. 
Dari uraian ini dapat dilihat bahwa adanya ketidakpercayaan antar generasi bangsa yang berakibat pada stagnanisasi perkembangan bangsa. Lalu bagaimana solusinya? Pemuda dan pelajar-pelajat SMP, SMA, dan mahasiswa tidak perlu pusing memikirkan ‘jatah’ kapankah akan diberi kesempatan untuk berkiprah menjadi pejabat negara. Dalam pembangunan nasional bukan hanya pembangunan fisik yang diperlukan, namun juga pembangunan moral dan karakter sosial yang akan secara tidak langsung mempengaruhi kualitas pembangunan fisik. Maka peran masyarakat muda dapat didefinisikan sebagai 1) agen perubahan. Pemuda menjadi generasi yang memberikan tauladan yang baik untuk masyarakat dan orang-orang yang seusianya, di atas usianya dan di bawah usianya. Pemuda menjadi pelopor perubahan yang dimulai dari saat ini, dimulai dari diri sendiri, dan dimulai dari hal yang terkecil. 2) Agen perintis. Pemuda harus merintis hal baru dalam kehidupan, menciptakan inovasi dan kreatfitas dari intelektualitas yang dimilikinya. Apa yang belum pernah dilakukan oleh orang-orang disekitar, maka janganlah ragu untuk mengawalinya. Tidak perlu banyak bicara dan banyak menuntut. Cukup buktikan dengan karya maka orang-orang akan terdiam dan berdecak bangga dengan apa yang telah berhasil dilakukan. Jika gagal, maka jangan tunjukkan keputusasaan dan rona wajah kesedihan. Segeralah bangkit dan kembalilah berkarya. 

Sebagai epilog, marilah kita merenung. Generasi pemimpin yang baik adalah yang bukan hanya bisa memakmurkan masyarakatnya yang sekarang masih hidup. Generasi pemimpin yang baik adalah generasi yang juga masih memikirkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakatnya yang akan datang yang sekarang belum terlahir di dunia. Termasuk yang manakah kita? (/zan)

1 Jun 2013

Karena Cinta yang Indah Tak akan Terjadi dalam Sekejap

Kini pengemudi kendaraan itu telah berganti. Bapak-bapak tua yang dulunya telah berusaha mengemudikan kendaraan itu dengan baik kini haruslah digantikan karena memang seorang ‘supir’ pastinya memiliki masa pensiun.

"Maka apabila kamu telah selesai dari satu urusan maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain". (Q.S. Al Insyirah: 7)

Perjalanan dakwah adalah perjalanan yang tiada penghujung. Kita bukanlah pemula, bukan pula golongan akhir yang menjadi penghujung. Namun kita adalah penyambung, maka janganlah berhenti di tengah perjalanan ini, teruslah berjalan, bahkan sesekali berlari adalah sebuah keniscayaan yang harus dilakukan oleh seorang da’i untuk mengejar impian kemenangan dakwah. 

Maka nikmatilah perjalanan ini. Nikmatilah segala canda dan tawa, sedih dan kecewa yang terjadi di dalamnya. Kemenangan, kesuksesan, kepedihan dan kegagalan adalah seperti bagian dari dua sisi mata uang yang tak mungkin terpisahkan. Terkadang kita merasa bukan siapa-siapa di ranah jalan juang ini. Dan terkadang kita merasa minder karena kapasitas diri yang kita anggap tak selevel dengan yang lain. Di sisi lain, mungkin kita menganggap bahwa diri kita adalah ‘pejabat’ dakwah. Seseorang yang dianggap menjadi seroang muharrik dakwah yang harus senantiasa prima dalam segala aktivitasnya.

Itulah semua fenomena peran dalam jalan dakwah. Mungkin tak banyak materi ataupun benefit yang kita dapatkan. Yang kita dapatkan mungkin hanyalah persaudaraan, ilmu dan pengalaman,  serta sedikit kebijaksanaan untuk dapat mengurai masalah menjadi sebuah hikmah. Sungguh luar biasa karunia yang diberikan Allah sehingga di usia muda ini kita telah diberikan kenikmatan merasakan masninya iman. Maka, sungguh merugi mereka yang tengah berada dalam jalan dakwah ini namun tak mampu menikmati. 

Sekali lagi, mari nikmati jalan dakwah ini, entah sebagai seorang yang bukan siapa-siapa atau sebagai  siapa-siapa. Amanah dan posisi dalam dakwah ini akan datang dan pergi begitu saja. Bisa datang, bisa pergi, bisa kembali lagi, bisa juga tak akan pernah kembali lagi. Kadang bisa iya, bisa tidak, bisa siap, bisa tidak siap. Bisa menjadi pengurus, tidak menjadi pengurus, menjadi simpatisan pengurus, menjadi temannya pengurus, bahkan tidak menjadi siapa-siapa yang tidak bisa disebut. 

“Kamu ini siapa ?” “Saya penguurs organisasi dakwah”. Ini sering disebut.
“Kalo kamu siapa?” “Saya mahasiswa yang diusung oleh organisasi dakwah”. Ini juga disebut.
“Kalo ente?” “ Saya dapat amanah jadi ketua organisasi dakwah”. Ini biasa disebut.
“Nah, kalo kamu siape?”
“Saya adalah orang yang senantiasa berdakwah. Baik dalam suka maupun duka, baik dalam keadaan lapar maupun kenyang, saat letih maupun bugar. Karena perjuangan dakwah adalah kemuliaan. Saya tak tahu sebagai apa saya. Namun nahnud duat qobla kulli syai. Saya lebih menyukai memberikan hal terbaik untuk dakwah daripada harus mendefenisikan siapa saya.’” Dan inilah jawaban yang jarang dijumpai.

Nikmatilah jalan dakwah. Susah senang itu biasa. Yang terpenting adalah mampu merasakan senang saat mengalami kesusahan. Dan tidak terlampau senang ketika mendapatkan keberhasilan. Karena semuanya adalah pertolongan dan kehendak Allah.

Allah telah memilih da’i-da’i terbaiknya untuk menegakkan islam di muka bumi. maka janganlah hanya menjadi penonton sinetron kemnengan dakwah. Tapi jadilah pelaku. Kalian adalah ummat terbaik. Kalian adalah da’i terbaik.

Saling mengertilah. Tak cukup hanya dengan mengerti, namun saling mengertilah.

Maka, mungkin sedikit kurang layak ketika kita terlalu mengambil banyak waktu untuk berhenti bergerak dengan dalih evaluasi apalagi sekedar untuk beristirahat.  Terlalu banyak kerja-kerja dakwah dan  impian yang menanti untuk disemai.

Lalu kapankah kita bisa istirahat? Nanti . . . ketika kaki-kaki kita telah berhasil menginjak surga.
Bersabarlah dalam dakwah, karena cinta yang indah tak akan terjadi dalam sekejap.

And I swear that I will never put anyone or anything before You . . . Allahu Robbuna.
[@kang_uzan]

25 Apr 2013

Karena Sikapmu, Ku Tulis Ini : "Untukmu yang Menyudutkan Dakwah Kampus" (2)

Dakwah kampus memang rupa-rupanya menjadi sorotan tersendiri bagi segolongan orang. Ada yang menganggapnya sebagai sebuah aktivitas amal yang baik karena di dalamnya diajarkan agar sesame manusia bisa saling menasihati dalam kebaikan dan kebenaran. Namun di sisi lain ada yang menganggap dakwah kampus sebagai sebuah aktivitas terselubung yang sarat dengan kepentngan dan golongan. Maka tak ayal jika pelaku-pelaku dakwah kampus ini menghadapi banyak cercaan dan makian dari orang-orang yang tak mengenal dakwah kampus dengan mendalam. Dengan ini saya katakana hal itu adalah biasa.

Pada dasarnya dakwah kampus adalah sebuah sarana yang dikehendaki banyak orang untuk dapat meraih ridho-Nya dan agar bahwa perjalanan pahit yang dirasakan oleh seorang aktivis dakwah kampus dapat menghantarkan pelakunya untuk menuju Surga-Nya. Banyak cara menuju surga, namun di balik itu banyak jalan yang justru membawa manusia menuju arah yang salah, niatnya mengajak kembali kepada Al quran dan As Sunnah, namun cara yang digunakannya adalah dengan mencaci, menghina dan memburuk-burukkan pihak lain yang tak sepaham dengannya.

Seakan surga adalah milik golongannya saja. Yang tak sepaham dengannya dianggap bukan ahlul jannah. Kebenaran ada di tangannya sendiri, pihak lain yang sama-sama muslim ketika berbeda pendapat ataupun pandangan hidup justru dihina, dijelekkan dan dijadikan bahan gunjingan yang mengasyikkan, dengan kata-kata kasarnya saudaranya yang seiman ‘dibantainya’, bahkan dipermalukan di depan umum. Menyedihkan, sekaligus prihatin. Dakwah itu ajakan, bukan ejekan.

Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin yang senantiasa menjaga perasaan pemeluknya. Islam agama yang mengedepankan akhlaqul karimah, islam menyukai orang yang sopan dalam berbicara dan bersikap. Islam adalah agama yang tak mudah menyalahkan dan mengintervensi pihak lain atau saudaranya ang berbeda pendapat. Dakwah itu ajakan, bukan ejekan.

Teringat sebuah nasihat seorang guru, seyogyanya seorang mukmin dapat melakukan 3 hal, yaitu :
1.       Bila kau tak mampu bermanfaat untuknya maka janganlah kau merugikannya
2.       Bila kau tak mau memujinya maka janganlah kau mencelanya
3.       Bila kau tak dapat membahagiakannya janganlah kau menyusahkannya

Itulah pedoman dasar yang memang rasional untuk didengarkan oleh seorang mukmin yang benar-benar mendengarkan suara hatinya. Sesungguhnya hati seorang menusia akan mampu menerima nasihat kebaikan selama dalam hatinya tak ada rasa iri, dengki, hasud, dan jauh dari fanatisme golongan yang sempit.

Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wassalam tak pernah mengajarkan untuk memaki pihak lain yang se-aqidah, yang sama lafal syahadatnya, yang sama gerakan sholatnya. Abu Bakar Ash Shidiq saat dilantik menjadi khalifah berkata, “Aku telah diangkat oleh kalian menjadi pemimpin kalian, dan aku tak lebih baik dari kalian, maka bila aku benar ikutilah aku, da bila aku salah maka luruskanlah aku.” Sikap luar biasa yang telah beliau contohkan sebagai seorang pemimpin yang rendah hati yang terpilih dari rakyat yang juga penuh kepatuhan dan tsiqoh kepada pemimpinnya. Sebuah nuansa yang sangat dirindukan dimana bersatunya jiwa seorang pemimpin yang adil dan rakyat yang patuh. Dakwah itu ajakan, bukan ejekan

Kemudian, zaman telah berubah. Tak akan ada yang mampu menandingi kepemimpinan seorang Abu Bakar. Maka sangat wajar jika terdapat seorang anak adam melakukan kesalahan, karena memang manusia tempatnya salah dan lupa. Islam adalah agama untuk semua orang, untuk semua golongan dan pada awalnya islam memang tak bermahzab. Dan bilapun ada perbedaan mahzab yang empat itu bukan untuk saling menyalahkan namun untuk saling melengkapi dan saling mengisi penuh simpati dan toleransi. Kalau sesama muslim saja saling menghina dan menghujat, bagaimana bisa pihak lain akan menghormati islam? Dakwah itu ajakan, bukan ejekan.
Sekali lagi, Nabi telah mencontohkan dakwah dengan kasih sayang, bukan dengan kekerasan dan pedang terhunus. Nabi tak pernah mengajarkan kita menjadi provokator dan penebar kebencian di kalangan sesama ummat islam. Maka marilah kita bersama-sama beristighfar, dan memohon doa kepada Allah agar hati kita tidak tertutup untuk menerima pintu hidayah dari-Nya. Karena dakwah itu ajakan, bukan ejekan

Saudaraku, ketika kita telah sepakat bahwa dakwah kampus adalah aktivitas yang baik, maka tidakkah sebaiknya kita bekerja bersama? Kami sangat prihatin ketika amal dakwah dan amal jama’i ini dikatakan sebagai alat pemuas kekuasan dan kendaraan politik dari sebuah golongan. Kami prihatin ketika saudara yang seiman dikatakan sebagai penjahat politik bagaikan serigala berbulu domba yang melakukan manuver politik berkedok agama. Seakan-akan politik merupakan sebuah momok yang harus seratus persen ditolak dan dibasmi dari muka bumi. Bukankah Nabi juga mengajarkan siyasah (politik) dalam dakwahnya? Bukankah perjanjian Hudaibiyah dalam shirah Nabawi sangat penuh dengan aroma politis?

Akhirnya, hanya sedikit yang dapat saya pesankan untukmu kader dakwah. Jika pun ada cibiran, ejekan, dan hinaan kepada kita, marilah hal tersebut kita gunakan sebagai momentum introspeksi diri sekaligus momen kebangkitan untuk menguatkan kembali kesungguhan komitmen dakwah kita yang telah kita ikrarkan bersama. Anggaplah itu semua sebagai nasihat yang lembut dan bentuk perhatian mereka kepada kita. Janganlah takut ataupun malu untuk tetap terus menjadi pelayan ummat. Jangan jawab cercaan dengan cercaan melainkan jawablah fitnah itu dengan pujian dan senyuman, karena kita adalah insan yang senantiasa berusaha belajar untuk menjadi seseorang yang santun dan bersahabat. Jalan yang lurus tak selalu mulus.

Bersabarlah terhadap kedengkian orang yang dengki

Karena sesugguhnya kesabaranmu akan memadamkanya

Api akan memakan dirinya sendiri

Apabila tidak menemukan sesuatu yang dimakannya

Itulah yang dikatakan orang bijak dan Bilau bersabda ”Janganlah kalian saling mendengki, saling membenci, mancari cacat orang lain, dan janganlah membujuk rayu dengan tipuan. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara” ( HR Bukhori dan Muslim)

Untukmu saudaraku, mari silakan mampir ke sekertariat barang sejenak. Insya Allah kami hidangkan secangkir teh manis yang akan kita seduh dan nikmati besama sambil bercanda ria.


ilustrasi : by al hadid

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India